Penandatanganan kesepakatan bersama sejumlah Ormas keagamaan di OKU

Ada Indikasi Pemurtadan, Ormas Keagamaan Di OKU Buat Kesepakatan Bersama

Baturaja, beritakite.com – Ormas Islam OKU bersama MUI dan Ikatan Gereja Kristen (IGKI) OKU pada Kamis (17/01/2019) membuat Kesepakatan bersama atau Memorandum of Agreement. penandatanganan kesepakatan bersama ini dilakukan di Kantor Sekretariat MUI OKU dalam kawasan Islamic Centre Baturaja.

Hadir dalam penandatanganan Surat Kesepakatan tersebut Ketum MUI OKU H Iskandar Azis, S.Sos bersama pengurus MUI OKU, Ketua Ikatan Gereja Kristen (IGKI) OKU, Perwakilan Ormas Islam, Perwakilan Polres OKU, dan Perwakilan Kesbangpol OKU.

Kesepakatan bersama tersebut merupakan respon atas adanya dugaan pemurtadan yang dilakukan oleh oknum penganut agama tertentu kepada umat muslim yang terjadi di Kabupaten OKU.

Ketua GNPF Ulama OKU H. Alikhan Ibrahim selaku perwakilan dari Ormas Islam mengatakan adanya pembuatan surat kesepakatan tersebut merupakan hasil musyawarah antara pihak ormas Islam dengan pihak IGKI yang diwakili Pendeta Eben Haizer Ndoen pada Rabu (16/01/2019) malam.

“Ini kita lakukan demi tetap menjaga kerukunan antar umat beragama di Kabupaten OKU” ujar Alikhan

Menurut Alikhan adanya kesepakatan ini merupakan respon adanya kegiatan pemurtadan yang dilakukan oleh beberapa oknum terhadap umat muslim yang telah terjadi pada beberapa waktu yang lalu, korban pemurtadan ini sudah ada, dan sudah membuat surat pernyataan, sehingga ini keresahan di kalangan umat Islam.

Alikhan melanjutkan bahwa pembuatan surat kesepakatan tersebut sengaja dilakukan setelah adanya permintaan dari IGKI melalui ketuanya Pendeta Eben Haizer Ndoen untuk menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan.

Sementara itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten OKU H. Iskandar Azis, S.Sos. menyampaikan bahwa meskipun pertemuan penandatanganan Surat Kesepakatan ini bukan termasuk dalam agenda resmi MUI OKU

“Ini merupakan kunjungan dari ormas Islam OKU yang dipimpin oleh GNPF Ulama OKU dan IGKI OKU untuk menyelesaikan permasalahan sebelumnya secara damai. Wajar jika perwakilan ormas Islam ini ke MUI OKU karena di bawah naungan kami sehingga mereka sangat menghargai kami pihak MUI OKU sebagai tempat penyelesaian permasalahan sebelumnya secara kekeluargaan. Syukurlah alhamdulillah permasalahan ini bisa kita selesaikan secara damai. Kami minta juga kejadian seperti ini jangan terulang kembali,” kata Ketua MUI.

Sementara itu Ketua IGKI Pendeta Eben Haizer Ndoen mengucapkan permohonan maafnya atas kejadian tersebut.

“Saya atas nama pribadi dan lembaga menyesal dan mohon maaf atas kejadian ini”.

Kedepan pihaknya akan mengingatkan kepada para pelaku agar jangan lagi mengulangi kesalahannya, jangan ada diskusi atau kajian yang menyinggung agama lain. Fokuslah kajian ke agama dan jamaah masing-masing.

“Sekali lagi kalau ini terjadi lagi saya tidak akan bertanggung jawab. Silakan pelakunya diproses hukum,” tegasnya.

Pada pertemuan tersebut ada  11 poin kesepakatan tertulis  di bacakan Pendeta Eben Haizer Ndoen diantaranya : Tidak menjebak untuk pindah agama, tidak melakukan adopsi anak-anak muslim, Teologi yang bersifat mempengaruhi dan membenarkan agama tertentu dan mematuhi SK Bersama 2 Menteri No.1 tahun 1979.

Usai penandatangan Surat Kesepakatan, para pelaku pemurtadan meminta maaf langsung kepada para korban dan umat Islam yang hadir pada kesempatan tersebut. (bw)

 

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

thirteen + 10 =

Berita Populer