HM. Albarr, Lc, M.HI / dok. pribadi

Aplikasi Prinsip Imsak Dalam Kehidupan

Oleh : Ustd HM. Albar,  Lc, M. Hi
Penulis adalah Kasi Umrah dan Haji Kemenag Muba dan Sekum MUI Kab. Muba

Puasa adalah perisai” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Hakekat Puasa

Puasa di dalam bahasa Arab disebut shiyam atau shaum. Kedua kata itu di dalam kamus al-Mu’jam al-Wajiz bermakna  amsaka  yang artinya menahan. Kata shiyam  di sebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 183 yang bermakna menahan dari makan, minum dan berhubungan suami istri dari terbit fajar hingga tenggelam matahari dan dari hal-hal yang membatalkan lainnya. Sedangkan kata shaum  disebutkan dalam Surat Maryam ayat 26 yang berarti menahan diri untuk tidak berbicara. Namun keduanya memiliki hakekat yang sama yaitu menahan diri dari sesuatu yang sudah menjadi komitmen untuk tidak dilanggar. Proses menahan diri dari yang diharamkan adalah wujud  ketaatan seorang hamba terhadap sang Khaliq yang telah menciptakannya dengan sebaik-baik bentuk.

Ketaatan seorang manusia kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW akan menjadikannya selamat dari semua keburukan di dunia dan akherat. (QS.24 ; 52). Konkritnya seperti disebutkan dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 201 ‘’Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat dan periharalah kami dari siksa neraka”. Ketaatan akan mendatangkan keselamatan bagi pelakunya. Seperti orang yang mentaati peraturan lalu lintas, maka ia akan selamat dari kecelakaan ataupun dari jeratan hukum pelanggaraan ringan.

Ketaatan memiliki dua dimensi makna yaitu melaksanakan Perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-Nya  dengan dilandasi keimanan dan keikhlasan serta berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW.

Aplikasi makna imsak dalam Kehidupan

Di dalam kehidupan dunia, manusia pasti banyak menghadapi  hambatan dan rintangan untuk mencapai tujuan dan cita-cita hidupnya. Sudah dipastikan bahwa tujuan hidup manusia adalah kebahagian dan kesuksesan. Baik sukses dalam karir pekerjaan, kehidupan rumah tangga maupun dalam ekonomi. Namun, manusia saat menghadapi  hambatan dan rintangan tersebut   terkadang dihadapkan sebuah pilihan antara kebenaran dan kebathilan, antara dosa dan pahala, sabar atau tidak sabar dalam mengambil keputusan. Keputusan tersebut sangat berpengaruh pada keselamatan hidupnya di dunia maupun di akherat.

Seorang pria dewasa, ketika timbul keinginanannya untuk menikah, tetapi ia belum memiliki kemampuan secara materi. Dorongan hasrat syahwat yang kuat,   bila tidak diimbangi kekuatan imsak (menahan), maka dapat mengakibatkannya terjerumus dalam perbuatan zina. Maka puasa merupakan cara yang paling jitu menjadikannya terhindar dari perbuatan dosa.  Di dalam hadist Nabi SAW, “Barangsiapa mampu membiayai pernikahan hendaklah menikah, karena nikah lebih menahan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa tidak mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah wija’ (mengendurkan gejolak syahwat) baginya,” (Diriwayatkan Al-Bukhari). Kekuatan imsak telah menyelamatkan dirinya dari dosa besar dan permasalahan yang ditimbulkan oleh perzinahan.

Bagi orang yang mengalami keterbatasan ekonomi, bila ia tidak mampu menahan diri dari keinginannya yang melebihi kemampuannya dapat mengakibatkan ia terjatuh dalam perbuatan dosa, seperti mengambil hak orang lain dengan cara mencuri, merampok dan lainnya atau terjerumus kepada kekufuran dan perbuatan syirik, seperti kasus penggandaan uang. Kefakiran/kemiskinan bila tidak didampingi iman dapat menyebabkan kekufuran. “Kemiskinan itu dekat kepada kekufuran.” Tetapi bila ia memiliki kemampuan imsak,  ia akan qanaah (merasa cukup)  dan bersabar dengan kondisinya saat itu. ” Dari Aisyah RA berkata, ‘Suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami dan bertanya, ‘apakah engkau punya makanan?’ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Kalau begitu, saya akan puasa’.”. (HR. Muslim, Nasai dan Tirmidzi). Orang yang terbiasa puasa, manakala ia tidak memiliki makanan, maka ia akan hadapi dengan berpuasa. Maka selamatlah ia dari perbuatan yang diharamkan Allah Swt.

Seseorang yang berada dalam sebuah posisi jabatan strategis atau  basah,  ia akan dihadapkan sebuah godaan yang dahsyat yaitu penyalahgunaan kedudukan untuk korupsi, kolusi dan lain sebagainya. Bila ia tidak memiliki kemampuan imsak  di dalam dirinya pastilah ia terjerumus dalam perbuatan dosa atau bisa beurusan dengan hukum. Tetapi bila ia seorang mukmin yang sungguh-sungguh dalam berpuasa Ramadhan dan rajin mengamalkan puasa sunnah, maka akan tertanam kekuatan imsak dalam dirinya, sehingga karena rasa takutnya kepada Allah Swt, ia terhindar dari  kesalahan itu. Orang yang bertakwa akan berhati-hati bila melakukan suatu tindakan dan selalu di dasarkan kepada tuntuan ilahi.

Di dalam interaksi sosial, kekuatan imsak  sangatlah penting diamalkan, sehingga ia dapat terhindar dari konflik  yang diakibatkan di antaranya oleh tergelincirnya lidah. Puasa mengajarkan agar kita mampu menahan lisan dari ucapan yang tidak benar atau bohong. “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, melakukan kedustaan serta berbuat usil, maka Allah Ta’ala tidak butuh ia meninggalkan makannya dan minumnya” (HR. Bukhari). Orang yang berpuasa juga mampu menahan dirinya dari amarah bila ada orang yang mencelanya atau menghinanya. “Puasa itu perisai, jika sesorang diantara kalian berpuasa, janganlah berkata keji dan janganlah berkelahi, dan jika seseorang mencelanya atau memusuhinya maka katakanlah aku sedang berpuasa.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Kekuatan imsak menjadikan diri kita terhindar dari segala perbuatan yang diharamkan Allah SWT dan juga dari perbuatan yang dapat menimbulkan konflik sosial baik bersifat personal maupun kelompok.

Dalam kondisi pandemic covid 19, penerapan prinsip imsak sangatlah membantu dalam proses percepatan pencegahan penyebaran covid 19. Apabila setiap individu masyarakat menerapkan prinsip imsak,  menahan diri untuk tidak berkumpul, menahan diri tidak mudik atau pulang kampung, menahan diri berada di rumah, termasuk menahan diri dari menyebarkan berita hoax, maka in sha Allah, penyebaran covid 19 di Indonesia akan segera berakhir.

Puasa dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, terutama nilai imsak  menjadikan kita survive dengan berbagai rintangan dan tantangan hidup yang sangat kompleks. Aplikasi nilai imsak  dalam kehidupan dapat menjadikan kita selamat di dunia dan di akherat.  Wallahu A’lam

 

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

seventeen + 2 =

Berita Populer