Aset Besemah Teracam “Dipatekan” Daerah Lain Jika Pemerintah Lamban

Aset Besemah Teracam “Dipatekan” Daerah Lain Jika Pemerintah Lamban\r\n\r\n

Agus Pemerhati seni dan kebudayaan Besemah, Kota Pagaralam

Agus Pemerhati seni dan kebudayaan Besemah, Kota Pagaralam

\r\n\r\nHB, Pagaralam – Sejumlah aset budaya, sejarah dan adat Besemah akan menjadi milik daerah lain jika Pemerintah Kota (Pemkot) Pagaralam, seperti Gitar Kepudang, rejong besemah, guritan, tari kebagh, dan masih banyak yang lain. Hal ini diungkapkan pengamat seni dan budaya Pagaralam, Agus, Sabtu.\r\nAgus menguraikan, ada juga gelang nago, kris, timbangan emas, pestol tiga peluru bila ditembakan tiga kali pelurunya akan kembali dan sekarang dititipkan di museum nasional karena Pagaralam belum ada tempat penyimpanan yang representatif dan benar-benar aman.\r\n”Masih cukup banyak lagi aset seni budaya dan adat mengandung sejarah Besemah belum satupun yang memikiki “Hak Paten” kita khawatir malah bukan pemiliknya yang mempatenkanya jika pihak terkait lamban,” kata Agus.\r\nIa mengagakan, sekarang yang menjadi persoalan apa instansi terkait sudah ada datanya, apa saja peninggalan yang mengandung nilai sejarah itu sudah terdaftar secara resmi di Pemetintah Kota Pagaralam.\r\n”Belum lagi ada pedang biru, kuduk giog, tulisan diatas kulit kayu, tulidan di kulit binatang, batik Besemah dan rumah adat termasuk ukiran Besemah,” ungka dia.\r\nAgus menambahkan, jangan sampai aset-aset itu sudah memilik nilai pendorong wisata dan menjadikan daerah tersebut dikenal banyak wisatawan justru daerah lain termasuk pihak swasta yang “Mepatenkanya”, kalau hal itu terjadi.\r\n”Siap-siap saja Pagaralam ngontrak di rumah sendiri atau dalam bahasa agak lagi tren cuman jadi penonot di tanah kelahiran sendiri,” ubgkap dia.\r\nSementara itu Wali Kota Pagaralam Hj Ida Fitriati mengatakan, memang sudah menjadi prioritas pemerintah untuk mempatenkan berbagai aset budaya dan sejarah, mamu untuk saat ini baru dibuat peraturan wali kota dulu.\r\n”Memang sudah diprogramkan untuk membuat hak paten, namun baru pakain adat saja dibuat dalam bentuk peraturan wali kota (Perwako),” ungkap dia. (mkh)

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

20 + 19 =