Jelang Pilkada, Penggiat Media Sosial Ancam Laporkan Penyebar Hoax

OKU, beritakite.com – Sejumlah milenial yang tergabung dalam komunitas Netizen Anti Hoax (NET.AH!) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menyampaikan keprihatinannya terhadap sejumlah pengguna media sosial di OKU menjelang Pilkada serentak 9 Desember 2020.

Direktur NET.AH! Syakirin Edo Lugan, kepada wartawan menyampaikan keprihatinannya atas banyaknya penyalahgunaan medsos oleh beberapa oknum, yang justru mengarah kepada kepada disinformasi hingga hate speech.

“Ini bagi kami selaku penggiat medsos yang mencari nafkah melalui saluran tersebut, merasa terganggu dan resah dengan oknum yang menyalahgunakan medsos ini sebagai wadah untuk menyampaikan hate speech dan disinformasi. Baik dalam hal menuju Pilkada yang sebentar lagi kita hadapi, atau disinformasi seputar pandemi covid dan lainnya,” urai Edo, kepada wartawan di Kantor Hukum Saiful Mizan SH, Selasa (03/11/2020).

Menurut Edo kalau hal semacam ini sampai kepada masyarakat yang awam, apalagi minim pengetahuan dan informasi dalam bermedsos, maka akan menimbulkan informasi yang sepotong-sepotong. Yang pada akhirnya menuju hoax dan menimbulkan keresahan.

“Maka dari itu kami berharap masyarakat OKU dapat santun dan bijak dalam bermedsos. Langkah ini juga sebagai upaya kami meliterisasi masyarakat agar mengerti dan tahu apa itu hoax,” jelas dia.

Komunitas NET.AH! sebagai gerakan yang fokus dalam kampanye anti hoax dan hate speech, mengajak semua pihak untuk bersama melawan hoax dan meminta:

Pertama; agar Kominfo untuk terus melakukan pengawasan ruang digital dan melakukan pemblokiran akun yang menyebarkan hoax dan hate speech.

Kedua; Cyber Polri untuk terus melakukan patroli dan melakukan penegakan hukum terhadap pelaku hoax dan hate speech di media sosial.

Dan Ketiga; kepada BawasluOKU untuk terus melakukan pengawasan dalam setiap tahapan Pilkada OKU.

Anggota Komunitas NET. AH bersama kuasa hukumnya

 

Di kesempatan itu, NET.AH! juga menunjuk kuasa hukum Saiful Mizan SH, untuk mensomasi beberapa akun dan grup-grup di medsos yang memang isinya dinilai dan diduga mengandung hujatan kebencian, berita bohong dan lainnya. Yang sejatinya tidak etis disampaikan.

“Ya, benar, kawan-kawan milenial ini resah oleh beberapa akun dan oknum yang tidak bijak dalam penggunaannya (medsos), bahkan sudah mengarah pada hujatan. Oleh karenanya mereka mendeklarasikan perang terhadap hoax, berita bohong, ujaran kebencian dan hujatan di medsos ini,” Ujar Saiful Mizan SH.

Menurut Saiful, akun-akun medsos yang mereka monitor itu sudah diinventarisir. Dan akun-akun itu, segera mereka somasi secara terbuka.

“Kami peringatkan untuk menghentikan hujatan-hujatan, ujaran kebencian dan hoax,” cetus dia.

Berdasarkan pantauan sementara, menurut Saiful, ada 16 akun. Baik di Facebook maupun Instagram. Sebagian besar, akun itu muncul dari grup.

“Ya. Sebagian besar tersambung dalam dua grup medsos di facebook. Ada juga di instagram. Jumlah ini bisa bertambah,” bebernya.

Ditegaskan Saiful lagi, jika akun-akun tersebut tidak menyampaikan klarifikasi atau permintaan maaf secara terbuka dan atau menutup akun secara mandiri dalam waktu 2 x 24 jam, maka pihaknya akan menempuh upaya hukum, sebagaimana saluran hukum yang ada.

“Negara dalam hal ini memang memberikan hak kebebasan berpendapat, tapi ingat ada batas-batasnya. Jangan kebablasan. Karena bisa jadi akan berujung pidana,” tandasnya.

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

5 + 3 =

Berita Populer

Berita Sumsel

iklan kpu