KAJAH Masih Dalami Sumber Primer Raden Fatah

Sumsel – Sejarah mengenai Raden Fatah memiliki banyak sekali hal yang masih misteri hingga hari ini. Ada beberapa versi dari sejarah Raden Fatah ini. Misalnya versi yang mengatakan Raden Fatah anak dari Brawijaya V Raja Terakhir Majapahit, ada juga versi Raden Fatah seorang Sayid, dan masih banyak versi lainnya.

Sedangkan di Hulu (Lahat), ada yang mengatakan Raden Fatah mendirikan Kerajaan Suku Lime. Namun ada lagi versi yang mengatakan bahwa Suku Lime itu bukan sebuah kerajaan.

Hal inilah yang mendasari KAJAH (Komunitas Pencinta Sejarah) mengadakan dua season diskusi sejarah mengupas sejarah Raden Fatah yang menghadirkan pemateri dari kalangan Ahli Filologi serta para penggiat sejarah.

KAJAH menghadirkan Iwan Setiawan SKom selaku Kasi Sejarah dan Tradisi Disbudpar Kota Palembang, Dr. Nyimas Umi Kalsum MHum akademisi UIN Raden Fatah Palembang sekaligus ahli filologi, Teguh Estro Penggiat Sejarah, Israil Wagiansyah dan Teratai penggiat sejarah dan masih banyak lagi.

Ditambah KAJAH mengundang banyak kalangan untuk ikut hadir dalam diskusi itu seperti Kemas Ari Panji merupakan ketua dewan adat Kota Palembang sekaligus akademisi UIN Raden Fatah Palembang, peneliti sejarah Melayu asal Malaysia Ahmad Zaini Ghazali, lembaga PESAKE MANDULIKE Raden Ajeng Dewi Saputri, Ketua Lembaga KOPZIPS Sumsel, perwakilan Kesultanan Palembang Darussalam, serta para penggiat sejarah seperti Kemas Ibrani, Ardi ch Tamin, para komunitas pencinta sejarah dan masih banyak lagi. Tidak hanya Sumsel, peserta berasal dari seluruh wilayah Indonesia seperti Aceh, Medan, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, bahkan Malaysia.

Kajian Raden Fatah ini telah menyimpan banyak data dari hasil diskusi dua season ini. KAJAH masih mendalami semuanya dan akan meneliti sumber primer hulu terkait Raden Fatah.

“Ada sumber primer nya di hulu, makanya akan coba kita baca dulu,” pungkas Yanuar Selaku Founder KAJAH.

KAJAH sendiri merupak sebuah komunitas pencinta sejarah yang anggotanya berasal dari berbagai daerah di Sumatera Selatan.

“KAJAH baru berdiri. Kami fokus pada sejarah Nusantara dan sekarang sedang membahas Raden Fatah dulu. Kami memiliki anggota dari berbagai latar belakang. Kami juga telah bekerjasama dengan teman-teman penggiat aksara ulu jika ada naskah yang akan di terjemahkan. Kami juga menjalin komunikasi dengan para Ahli Filologi di Palembang, badan arkeologi, serta Komunitas-komunitas sejarah dan kebudayaan Sumatera Selatan,” jelas Yanuar.

 

(Sri)

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

3 × 3 =

Berita Populer