Karena Kita, Adalah Pemimpin

Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya.

Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati.

Penulis pernah mendengarkan seorang dosen yang di Fakultas UIN Raden Fatah Palembang, seorang genius yang sampai saat ini penulis masih ingat dengan penjelasannya mengenai kepemimpinan. “Untuk menjadi seorang pemimpin, Anda tidak harus menjadi seorang pejabat yang terpilih, atau seorang CEO. Seorang pemimpin adalah seseorang yang selalu ingin diikuti oleh orang lain untuk mendapatkan arah dan ide yang baru. Gelar yang bergengsi bisa membuat hal itu terjadi secara sementara, tetapi seorang pemimpin yang sejati menginspirasikan kesetiaan dengan berpikir seperti seorang pemimpin, percaya diri, tegas, tapi baik. Jadilah orang yang ahli, menjadi pengambil keputusan, memperhatikan pengikut anda, percaya bahwa semua orang bisa menjadi seorang pemimpin, bersikap seperti seorang pemimpin yang menepati janji, perlakukan tim dengan baik, tunjukan komitmen untuk kemajuan tim, menyatukan semuanya tanpa memandang suku, ras, dan agama.”

Ketidakadilan dalam memimpin hanya akan mengakibatkan terjadinya kerusakan, dimana orang yang salah diberi amanah, sedangkan orang yang benar dituduh sebagai pembuat onar. Betapa pentingnya perkara ini bagi para pemimpin, Al-Qur’an terus mengulang-ulang bagaimana kesewenang-wenangan menjadi gerbang kehancuran dan kenistaan seorang raja bernama Fir’aun. Fir’aun adalah sosok pemimpin yang gagal menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya, malah ia semakin kehilangan akal sehat dalam menentukan beragam kebijakan dan keputusan.

Masalah keadilan juga Allah tegaskan di dalam Al-Qur’an. “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi kerana Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu kerana ingin menyimpang darikebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.” (QS. An-Nisa’ [4]: 135).

Dalam skala terkecil, saat kita berinteraksi di dunia maya, terutama sosial media, sikap bijaksana juga sangat diperlukan. Jangan sampai asal share beragam informasi yang diterima. Cek lebih dahulu, timbang-timbang dengan nalar ini penting atau tidak, ini bermanfaat atau tidak baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Kemudian cek lagi lebih dalam “Kalau saya share ini apakah akan menguatkan iman sesama atau malah sebaliknya.” Karena menjadi seorang pemimpin dimulai dari diri sendiri. Hal tersulit adalah untuk memulai.

Penulis: Vinna

 

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

five × one =