Kita Bukan Rakyat Kambing

Detik-detik menuju usia ke-73 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia sebagai sebuah negara semakin mendekat. Ada sebuah kebanggaan yang tak mampu kita sembunyikan untuk menyambut peristiwa paling bersejarah di Negeri kita. Jika kita tengok di pedesaan maupun perkotaan suasana kemeriahan menyambut hari kemerdekaan Indonesia begitu kentara. Pelbagai lomba diselenggarakan dari panjat pinang, makan kerupuk, balap karung, sepak bola mini, dan lomba-lomba yang unik lainnya menyemarakan 17 Agustusan. Ceremony seperti inilah yang biasa kita jumpai hampir di semua daerah untuk memaknai kemerdekaan. Itulah ceremony yang pasti ditemui dan cara mayoritas rakyat kita memaknai kemerdekaan Indonesia.

Saya tak ingin mengkritik dengan membabi buta seremonial 17 Agustusan. Karena sebagai anak bangsa punya pemaknaan yang berbeda tentang bagimana cara merayakan dan memaknai kemerdekaan bangsa ini. Jujur saja, disatu sisi saya pribadi menikmati seremonial-seremonial tersebut. Namun di sisi yang lain, saya harus jujur merasa seremonial tersebut hanya sekedar pelepas dahaga di tengah padang pasir. Hanya sesaat, tak membuat kita keluar dari panas dan teriknya cuaca padang pasir.

Ada sebuah pertanyaan klasik yang selalu kita tanya setiap kali berada diperayaan hari kemerdekaan Indonesia, Apakah kita sudah merdeka? Ini pertanyaan yang sederhana, tapi sulit kita jawab dengan lugas.

Pernah saya membaca pada sebuah artikel media online Republika. Artikel tersebut ditulis oleh Ramadhani Akram, seorang jurnalis senior. Judul artikel tersebut tidak memberikan kita keyakinan tentang kemerdekaan yang telah kita raih. Tetapi, judul tersebut mempertanyakan waktu kapan zaman kemerdekaan ini segera berakhir. Judul artikel tersebut, “ Kapan Zaman Merdeka Ini Berakhir?”

Artikel satir tersebut, menceritakan tentang seorang Mbah yang bernama Pono (93). Mbah Pono baru saja mangkat keharibaan Allah SWT. Mbah Pono menceritakan bahwa kehidupan beliau di Zaman penjajahan Belanda justru lebih “merdeka” dibanding zaman kemerdekaan. Mengapa bisa begitu?

Pada zaman Londo, mbah Pono merasakan hidupnya benar-benar merdeka. Beliau mengatakan walaupun dijajah oleh Londo semua kebutuhan beliau terjangkau, semua ada dan aman. Beliau memiliki perkerjaan sebagai tukang ngarit rumput untuk kuda kontrolir Belanda. Hidupnya mapan dan nyaman. Itulah yang mbah Pono rasakan di zaman Londo.

Saat Jepang mengambil alih dari Belanda, disitulah awal semua perubahan dalam kehidupan si Mbah. Lalu, datanglah zaman kemerdekaan. Kuda tak ada lagi diganti mesin, desanya mbah digusur, dan akhirnya si Mbah pindah ke Bengkulu. Cari duit sulit, perut pun melilit. “Loh untuk apa kita merdeka nek mangan saja susah. Apalagi sekarang ini, zaman nganu iki, paling susah dibandingkan zaman-zaman sebelumnya,” ujar si Mbah.

Artikel mengenai mbah Pono memberikan kita gambaran bahwa kemerdekaan yang selama 73 tahun bangsa kita raih, justru tak membuat mbah Pono “merdeka”. Hidupnya justru “terjajah”. Faktor rendahnya pendidikan dan minimnya keahlian yang dimiliki si Mbah membuatnya tak mampu menghadapi perubahan zaman dan terjerembab ke jurang kepapaan.

Kita tengok data-data statistika, menurut suvei PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2017 kemampuan siswa Indonesia di bidang sains berada di peringkat 62, membaca di peringkat 61, dan matematika di peringkat 63 dunia. Pada tahun 2015, BPS menyatakan pengangguran tertinggi ditempati oleh lulusan sekolah dasar (24,15%) dari 17.300.019 penduduk usia 15 tahun atau lebih yang menganggur (dikutip dari Suwignyo). Menurut Suwignyo (2017) tenaga kerja Indonesia saat ini terbesar memiliki pendidikan SD (28,03%) dan SLA (25,1%). Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan 1996.

Dari data statistika yang disajikan di atas menunjukan bahwa pendidikan di Indonesia belum menjadi hal yang penting bagi rakyat Indonesia. Masyarakat belum melihat urgensi pendidikan penting dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaan yang telah bangsa ini raih dengan jerih payah. Secara empiris, penulis melihat dengan langsung bagaimana di daerah tempat penulis tinggal masih ada anak-anak yang oleh orang tua mereka tidak disekolahkan dari jenjang SD, dikarenakan faktor tradisi keluarga. Sungguh miris, namun inilah adanya.

Selain faktor di atas, keseriusan pemerintah dalam menyediakan sarana pendidikan yang layak dan berkualitas masih jauh panggang dari pada api. Menurut UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) report 2016 peringkat guru di Indoensia menempati peringkat ke-14 dari 14 negara berkembang di dunia. Hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015 rata-rata nasional hanya 44,5 dari standar minimal 75. Data tersebut menunjukan guru sebagai ujung tombak peningkatan kualitas SDM bangsa ini masih jauh dari kualitas yang kita impikan dalam UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Penulis teringat istilah yang dibuat founding father kita, bung Karno dalam bukunya “Mencapai Indonesia Merdeka”, yaitu Rakyat Kambing. Rakyat Kambing dalam tulisan tersebut digambarkan sebagai rakyat yang berputus asa, zonder (hilang) kepribadian, pengecut, dan rela menjual bangsanya sendiri.

Dengan rendahnya pendidikan kita pada sebagian penduduk Indonesia, secara tidak sadar akan melahirkan “Rakyat Kambing”. “Rakyat Kambing” ini akan menghantarkan bangsa ini pada keterjajahan bangsa ini jilid ke-2. Tentu, kita tak menginginkan hal tersebut terjadi. Kita sebagai anak muda bangsa harus mulai bersuara dan bertindak menentang kegagalan sistemik dalam meningkatkan SDM berkualitas, yang berujung pada kegagalan kultural kita sebagai bangsa. Bumi merah putih harus melahirkan rakyat-rakyat yang berani berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar dunia dengan kualitas SDM yang mumpuni. Bukan mengembek seperti kambing dan mudah diadu. Tegaskan bahwa pada hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-73 ini, bahwa kita bukan dan tak akan pernah menjadi “Rakyat Kambing”  Dirgahayu Indonesia, Merdeka…!!!

Oleh : Andrie Zuliansyah, SP (Ketua PKS Muda OKU Timur)

 

 

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

two × 4 =