Kopi Asal Tanah BESEMAH Jadi Tren Masyarakat Sumsel

WARI MULAI GETOL PROMUSIKAN KOPI BESEMAH\r\n\r\n

Bupat Lahat Saifudin Aswari Rivai, menunjukan jenis kopi unggul hasil stek yang di kembangkan warga Tanjung Sakti yang merupakan bagian dari Kopi Besemah

Bupat Lahat Saifudin Aswari Rivai, menunjukan jenis kopi unggul hasil stek yang di kembangkan warga Tanjung Sakti yang merupakan bagian dari Kopi Besemah

\r\n\r\nHB, PAGARALAM – Kopi asa tanah Besemah yang tumbuh di dataran tinggi Kota Pagaralam, Kabupaten Lahat dan Semendo Kabupaten Muaraenim, hasil penelitian tim ahli kopi sangat cocok dengan londisi alam dengan ketinggian 650 hingga 1500 diatas permukaan laut (dpl), dan saat ini menjadi tren masyarakat Sumatra Selatan (Sumsel).\r\n”Kita harus usaha keras dan dukungan semua elemen masyarakat untuk mengembalikan kejayaanya kopi Besemah, baik pemerintah, petani, dan pelaku usaha termasik pincinta kopi, meskipun kini kopi kita mulai tren dilidah masyarakat Sumsel,” kata Bupati Lahat Saifudin Aswari Rivai, Sabtu.\r\nMenurut dia, memang perlu memenuhi kriteria permintaan pasar, agar tidak kalah bersaing dengan kopi dari luar, baik dari kualitas dan pengolahannya.\r\n”Namun langkah untuk perbaikan dan mengejar ketertinggalan teknik pengelolaan dari daerah lain seperti Aceh, Bali, Jawa Tengah, Papua dan beberapa daerah penghasil kopi di Indonesia lainya harus kita dimulai,” ungkap dia.\r\nMengembalikan kejayaan “KOPI BESEMAH” tidak sulit tinggal kita mau atau tidak, kalau jalan sudah terbuka luas, apalagi didukung oleh Akumindo dan UMKM termasuk PHRI, kata Wari.\r\nPotensi kopi Robusta yang di miliki daerah yang masuk lingkup Besemah masuk katagori 5 besar terbaik di Indonesia, dengan kelebihan memilki cita rasa tersediri.\r\n”Namun tentunya yang harus menjadi perhatian kita untuk merubah mindset atau pola pengelolaan kebun kopi lebih baik sejingga sesuai dengan permintaan pasar, misalnya kualitas buah, sistem pengelolaan dan penanaman kopi,” kata dia.\r\nKemudian, kata dia, kebiasaan petani menggunakan pestisida atau racun rumput yang berlebihan, dan memetik kopi dengan srut juga perlu dirobah belum lagi pengelolaan kebun hanya mengandalkan alam.\r\n”Petani kita harus bisa merobah tradisi dari nenek moyang baik tehnik memetik, penatan kebun dan termasuk pengelolannya sehingga kebun bisa dimanfaatkan untuk kunjungan wisata,” kata Wari.\r\nIa manambahkan, di Sumsel sendiri beberapa daerah ini masuk katagori kopi rubusta terbaik, maka diminta masyarakat yang memiliki kebun kopi dapat merawat kebun dengan baik, hingga menghasilkan kualitas kopi terbaik.\r\nSementara itu pengusahan bubuk kopi Kota Pagaralam, Hendi Romiko SE mengatakan, komitmen mempromosikan produk UMKM yang ada di Kota Pagaralam, khususnya produk olahan kopi. Selain itu, ada  termotivasi lain dengan kunjungan South Sumatera Coffee Trips ke Kota Pagaralam, mengharapkan jika komuditi andalan ini terkenal perlu adanya  brand/merek.\r\n“Seperti sebutan nama Kopi Pagaralam ataupun Kopi Besemah misalnya. Tantangan yang kita akan hadapi untuk menjadikan satu brand/merek tidaklah mudah. Tidak hanya produknya yang beragam dihasilkan industri kecil, melainkan juga tak terlepas dukungan semua pihak, baik itu pemerintah, pihak UMKM maupun dari para petani itu sendiri,” kata dia.\r\nPerlu perhatian serius, kata dia, untuk menghasilkan kopi yang berkualitas, dimulai dari pemilihan bibit, perawatan, panen, proses pengolahan kopi, proses pendistribusian hasil pengolahan, harus memenuhi standar. Perlunya keterlibatan dinas terkait untuk merealisasikannya. (mkh)

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

14 − 6 =

Berita Populer