Marissa Haque Mengaku Darah Cut Nyak Dhien Mengalir Dalam Dadanya

MARISSA HAQUE ANGGOTA KAHMI NASIONAL\r\n\r\nMatissa Haque\r\n\r\nMarissa Haque yang didampingi Dr H Idris SE, MSi dan sejumlah narasumber saat menjAmiruddinadi moderator bedah dan peluncuran buku Bireuen Segi Tiga Emas Ekonomi Aceh, karya Amiruddin Idris, di aula AAC Ampon Chiek Peusangan, Umuslim, Peusangan, Bireuen.\r\n\r\nHB,BIREUEN ACEH – Artis ibu kota Marissa Haque yang kini banyak menghabiskan waktunya di lembaga pendidikan dan juga sebagai pengamat ekonomi syariah di Jakarta, mengaku sangat bangga memakai baju adat Aceh. Karena dari dulu dia sangat mengidolakan wanita perkasa pahlawan wanita asal Aceh Cut Nyak Dhien, karena darah pahlawan nasional ini diakui mengalir dalam dadanya.\r\n\r\n“Benar-benar seperti darah Cut Nyak Dhien mengalir dalam dada saya,” kata isteri Ikang Fawzi rocker Indonesia, menjelang naik panggung menjadi moderator bedah buku, Bireuen Segi Tiga Emas Ekonomi Aceh, karya Dr H Amiruddin Idris SE, MSi, di gedung Auditorium Academic Center (AAC) Ampon Chiek Peusangan, kampus Universitas Almuslim (Umuslim), Peusangan, Bireuen.\r\nMenurut Rektor Umuslim, wanita yang telah membintangi sejumlah film nasional tersebut datang ke Tanah Rencong, memenuhi undangannya untuk menjadi moderator bedah buku dan juga menjadi pemeteri dalam acara kuliah umum yang diikuti ratusan mahasiswa di kampus yang berada di Kota Sate matang Geulumpangdua tersebut, yang berthemakan, How to be A Good Moslem Enterpreneur atau membangun generasi mandiri menuju ekonomi berkelanjutan.\r\n“Keinginan Ibu Marissa memakai baju adat Aceh diungkap saat jumpa pers dengan sejumlah insan pers wilayah liputan Aceh, yang kami gelar di warkop Caffe Break Bireuen, juga ikuti guru besar UI, Prof Dr Nazaruddin Sjamsuddin,MA.,PhD. Jadi Mbsk Icha memakai baju tradisonal Aceh untuk dipakai saat menjadi moderator bedah dan peluncuran buka karya saya,” kata Amiruddin, kepada wartawan usai bedah dan peluncuran buku hasil karyanya.\r\nSetelah disampaikan keinginan memakai baju khas Aceh yang penuh sulaman tersebut, saat itu isterinya, Hj Nuryani Rachman, S.Pd, langsung menanggapinya serta mengatakan akan berusaha mencarinya, walaupun ukurannya kurang maksimal dengan badannya. “ Mbak Icha panggilan akrab Marissa Haque pakai baju adat sebagai bentuk kecintaan terhadap Aceh saat menjadi moderator,” kata dia.\r\nMendengar jawaban atau tanggapan Nuryani Rachman, alumni S3 IPB Bogor tersebut, wajahnya langsung sumeringah dan esoknya, pakaian adat Aceh yang dimintanya dibawa isteri Amiruddin, lalu dengan sangat semangat memakainya dan juga didandannya di Geuest House milik Umuslim tempat dia menginap. “Keinginan dan motivasi saya memakai pakaian adat Aceh, karena saya dari dulu sangat mengangumi sosok wanita perkasa dan pemberani sang pahlawan nasional dari Aceh, Cut Nyak Dhien, saya sangat senang dan terhormat memakai pakaian adat Aceh,” katanya.\r\nLalu ibu dari dua putri yang memiliki nama lengkapnya sekarang ini, Dr Marissa Haque Fawzi, SH, M.Hum, MBA, MH, MSi, mengatakan, melestarikan nilai-nilai adat istiadat bangsa juga merupakan menghargai jasa para leluhur pendiri bangsa ini.\r\n“Kalau bukan kita generasi sekarang yang mau memakai dan lestarikan pakaian ini untuk kedepan siapa lagi, bisa-bisa pakaian adat ini bisa punah,” katanya.\r\nJujur saya katakan, rasanya gagah banget saya saat memakai pakaian Aceh, rasanya darah Cut Nyak Dien yang pahlawan itu terus mengalir dalam dada ini untuk bisa melanjutkan apa yang di cita-citakan Cut Nyak Dien dulu, Alhamdulillah sekalilah keinginan saya dipenuhi ibu Rektor Umuslim Hj.Nuryani Rachman yang memberikan saya satu set pakaian adat Aceh untuk saya pakai pada saat menjadi Moderator hari ini,” tambahnya sambil memperhatikan baju sulaman khas Aceh yang dipakainya saat itu.\r\nBaju khas Aceh yang dipakai Marissa saat itu, memang tidak begitu pas di badannya karena baju adat Aceh tersebut bukan yang dijahit khusus melainkan yang telah jadi, namun dia mengaku cukup bersemangat mengenakan kain sarung Aceh.\r\n“Saya sangat bahagia dan berterimakasih atas penghargaan walau tidak sempurna seratus persen baju ini, karena saya pesan mendadak tadi malam,” kata wanita kelahiran Balik Papan 15 Oktober1962 itu yang juga terlihat sangat pede saat tampil menjadi moderator mendampingi para narasumber, yakni, Prof Dr. Nazaruddin Syamsuddin MA (Guru besar Fisip Universitas Indonesia) yang juga putra Aceh kelahiran Bireuen, Dr Amri ZA, MSi (Dosen Fakultas Ekonomis Unsyiah) dan Yarmen Dinamika (Redaktur senior Serambi Indonesia).\r\nMarissa yang sempat menitip pesan kepada pemerintah di Aceh pada saat jumpa pers, agar terus menggerakkan sektor wirausaha, karena Aceh mempunyai potensi yang luar biasa yang bisa diolah untuk menghasilkan produk unggulan dari tiap kabupaten/kota di Serambi Makkah. “Aceh harus bisa ikut berperan dalam MEA , makanya pemerintah Aceh harus bisa mengerakkan sektor wirausaha  karena peluang tersebut Aceh mempunyai potensi cukup besar baik hasil perkebunan, perikanan dan kulinernya juga enak dan Makyus, tetapi harus ada yang menjadi unggulannya,” ujarnya.\r\nRektor Umuslim Dr.H.Amirruddin Idris,SE.,MSi yang didampingi isterinya, Hj,Nuryani Rahman, mengatakan, kehadiran Marissa Haque ke kampus yang dimpinginya sekarang ini, dalam rangka proses akademik kampus, pertama untuk memberi kuliah umum dan menjadi Moderator pada peluncuran dan bedah buku “Bireuen sebagai Segitiga Emas Ekonomi Aceh, hasil buah penanya. “Marissa Hague seorang artis dan publik figure tetapi memilki keilmuan dari hasil pendidikannya di beberapa bidang ilmu seperti Hukum,Ekonomi dan bahasa, dan sangat jarang biasanya seorang artis yang mempunyai keilmuan seperti Marissa Hague, bahkan, sekarang ini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi guru besar,” katanya.\r\nDengan kelebihan berbagai ilmu yang dimiliki Marissa, lanjut Amiruddin, menjadi motivasi semua perempuan, mahasiswa di Aceh khusunya di Bireuen untuk terus belajar demi mencapai cita-cita. “Semoga dengan acar yang kami gelar ini dan juga dengan hadirnya marissa Haque dapat membuka wawasan para mahasiswa tentang kondisi dan  peluang kerja bagi lulusan Perguruan Tinggi pasca diberlakukannya MEA, karena materi yang disampaiakan isinya mengarah tentang  kesiapan masyarakat pasca diberlakukanya MEA  dan upaya membangun jiwa enterpreneur dikalangan generasi muda dan mahasiswa,” harapnya.\r\nSebagai informasi yang disampaikan Kabag Humas Umuslim, Zulkifli, M.Kom, Marissa Haque adalah seorang lulusan  program MSi pada  jurusan Perbankan Syariah PKSTTI UI (Pusat Studi Kajian Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia) dan program Doktor (S3)  diperoleh pada   program PSL (Pusat Studi Lingkungan-Institut Pertanian Bogor) serta  program Magister in Business Administratration atau MBA (S2) di Fakultas Ekonomi dan  Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM). “Selama ini kita mengenal Marissa Haque hanya publik figur sebagai artis ibu kota, teryata dia juga seorang akademisi, pengusaha dan juga aktip diberbagai organisasi seperti Masyarakat Ekonomi Syariah (MES),  Korps Alumni Mahasiswa Islam Indonesia (KAHMI) tingkat nasional dan Asosiasi Auditor Hukum Indonesia (ASAHI) sebagai Ketua Bidang Komunikasi dari FH-UGM dan ILUNI,” kata Zulkifli. (ami)\r\n\r\n 

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

eighteen − twelve =