Marratu Fahri saat membuka acara Kajian Ramadhan PD Muhammadiyah OKU

Marratu Fahri : Anggota DPR “Lompat Pagar” Efek Dari Kaderisasi Parpol Yang Tidak Berjalan

Baturaja, beritakite.com – Pasca diumumkannya Daftar Calon Sementara (DCS) Anggota DPRD OKU dalam Pemilu tahun 2019 oleh KPU OKU pada Minggu (12/8, dimana berdasarkan pengumuman DCS dari KPU OKU tersebut diketahui 5 (lima) orang anggota DPRD OKU “lompat pagar” (mencalonkan diri sebagai anggota DPRD OKU dari partai lain).

Adapun ke lima anggota DPRD OKU yang “lompat pagar” tersebut adalah

  1. Dra. Erlina B Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang pada pemilu 2019 akan mencalonkan diri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
  2. Sahril Elmi anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang pada pemilu 2019 akan mencalonkan diri Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
  3. Yudi Purna Nugraha, SH anggota DPRD OKU dari Partai Kebangkitan Bangsa yang pada pemilu 2019 akan mencalonkan diri dari Partai Amanat Nasional (PAN)
  4. Kamaludin anggota DPRD OKU dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) yang pada pemilu 2019 akan mencalonkan diri Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
  5. Parwanto, SH., MH anggota DPRD OKU dari Partai Amanat Nasional yang pada pemilu 2019 akan mencalonkan diri Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)

Fenomena “lompat pagar” atau ada juga yang menyebutnya sebagai “ kutu loncat” anggota DPRD OKU tersebut mendapat tanggapan dari berbagai kalangan masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ulu, karena fenomena “lompat pagar” secara beramai-ramai ini baru terjadi pada pemilu kali ini.

Menurut pengamat politik yang juga Dosen FISIP Universitas Baturaja Marratu Fahri, S.I.P., M.I.P saat dihubungi beritakite.com pada Senin (13/8) fenomena anggota DPRD “loncat pagar” tersebut membuktikan bahwa parpol di Indonesia belum terlembagakan dengan baik.

“Berdasarkan aturan memang tidak ada yang melarang orang “lompat pagar” (pindah partai), 5 tahun lalu jadi anggota dewan dari partai A, dan pemilu berikutnya pindah (nyaleg) partai B. Namun, secara teoritik hal itu  terkesan kurang elok, dari sinilah muncul istilah “kutu loncat”. Fenomena hijrah partai ini biasanya (umumnya) karena pertimbangan pragmatis.  Hal ini sekaligus  menunjukkan betapa parpol di Indonesia belum terinstitusionalisasi/terlembagakan dengan baik. Akibatnya, parpol tidak lebih “hanya” sebatas perahu yang secara kelembagaan seolah menjadi sub ordinat dari para elitenya. Hal ini pula yang menyebabkan personalisasi kepemimpinan di tubuh parpol” jelas Marratu.

Aksi “lompat pagar” tersebut juga menunjukkan belum berjalannya kaderisasi dan sistem karir yang baik pada partai politik di Kabupaten OKU bahkan di Indonesia.

“Institusionalisasi atau pelembagaan dimaksud menyangkut sistem rekrutmen, sistem kaderisasi dan sistem karir. Ketiga hal tersebut sejatinya mrupakan satu kesatuan. masalahnya, sistem kaderisasi dan sistem karier di partai politik umumnya tidak berjalan dengan baik, karena itulah penyebab orang dengan mudah pindah-pindah partai” pungkas dosen yang juga menjabat sebagai Ketua PDM Muhammadiyah OKU tersebut. (bw)

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

nineteen + twelve =