Pakar Pendidikan Desak  Pagaralam  Bentuk Pusat Kajian Budaya Besemah

Pakar pendidikan Sutiono Mahdi

Pakar pendidikan Sutiono Mahdi

HB, PAGARALAM  – Hampir sebagian besar pusat kajian budaya daerah di Indonesia berada di negara Asing seperti Belanda, Inggris dan Amrika Serikat (AS), tentunya sudah saatnya jika Pagaralam jadikan pusat kajian budaya Besemah yang sudah banyak di lirih peneliti negara barat untuk melakukan penelitian. Demikian diungkapkan pakar pendidikan dan peneliti kebudayaan  Besemah, Dr Drs Sutiono Mahdi M Hum.\r\n    “Kalau pemerintah peduli dengan budaya Besemah dan tidak ingin punah, salah satu penyelamatnya dengan menjadikan Pagaralam sebagai pusat kajian budayah besemah, dan jangan sampai orang asing yang mengusainya,” kata Sutiono yang merupakan putra besemah dosen UNPAD ini.\r\n      Ia mencontohkan, kalau ada yang mau pelajari budaya salah satu daerah di Indonesia harus ke Belanda atau Inggris, mengapa tidak di ngara sendiri.\r\n     “Buktinya kalau mau pelajari budaya Sunda dan jawa yang lebih mendalam pusatnya ada di Belanda atau Inggris, mengapa tidak di Indonesia sendiri,” ungkap dia.\r\n      Nah, kata dia, mengapa tidak dimulai sekarang untuk jika pusat budaya Besemah justru di Kota Pagaralam.\r\n     “Tentunya hal paling mendasar perlu dilakukan pemerintah kota dengan membangun musium adat, yang dapat menampung berbagai peninggalan adat Besemah,” kata dia lagi.\r\n      Menurut dia, jadi semua peninggalan besemah bisa ditemui di musium tersebut mulai dari alat kesenian, pakaian adat, alat, dan termasuk seluruh peninggalan yang masih banyak tersebar di masyarakat.\r\n       “Seperti kris, gelang, kain,  sendal, ukiran, dan beberapa alat rumah tangga lainya yang lebih dieknal “barang baghi red”,” katanya.\r\n       Sutiono mengatakan, semua barang peninggalan itu harus dikumpulkan oleh pemerintah untuk dimasukan dalam musium tadi dan bahkan bila perlu dibeli.\r\n       “Kalau ini terwujud bukan tidak mungkin Pagaralam akan menjadi rujukan bagi kebudayaan daerah di Sumsel dan bahkan Indonesia,” kata dia.  \r\n       Bahkan, kata dia, jika ini dapat diwujudkan bukan hanya menarik wisatawan domistrik dan bahkan termasuk wisatawan dunia internasional terutama peneliti budaya daerah.\r\n        “Saya khawatir budaya besemah dikuasai orang asing, karena sudah cukup banyak para peneliti melakukan kajian termasuk menjadikan budaya besemah sebagai bahan untuk kerya ilmiah seperti peneliti dari Amereka, Inggris dan termasuk Belanda,” ujarnya.\r\n       Sebetulnya, menurut dia, ada tujuh unsur yang menjadi rujukan untuk menjadikan Pagaralam pusat budaya Besemah, selain ada musium adat, bisa mengembalikan pola kehidupan dalam  masyarakat dengan kegiatan adat.\r\n      Seperti, mulai dari tarian, adat istiadat sehari-hari, mata pencaharian, mengalakan budaya besemah, bahasa, organisasi kemasyarakatan, perkumpulan dan beberapa lainnya.\r\n     Menurut dia, budaya Besemah bukan hanya sudah mulai terancam punah dan bahkan mulai terkikis  dengan budaya daerah lain di Sumsel.\r\n     “Kami ingin kebudayaan besemah kembali dilestarikan dengan membangun atau menjadikan Pagaralam sebagai pusat kajian budaya besemah dunia,” kata dia.\r\n     Ia mengatakan, untuk menjadikan Pagaralam sebagai pusat budaya besemah juga harus di dukung pemerintah daerah.   \r\n       \r\nKetua Lembaga Adat Melayu Besemah, Satarudin Tjik Olah mengatakan untuk melestarikan budaya daerah  Besemah, pemerintah harus mengalakan kegiatan masyarakat dan pemakaian bahasa Besemah dalam kegiatan sehari-hari  misalnya acara hajatan-hajatan atau persedekahan.\r\n     Ia mengatakan, memang budaya Besemah saat ini semakin terancam punah lantaran saat ini budaya modern lebih mendominasi dalam kehidupan masyarakat Kota Pagaralam, Sumatra Selatan (Sumsel).\r\n   “Sebetulnya, langkah yang mesti dilakukan agar dapat kembali melestarikannya dengan memasukan budaya  Besemah ke dalam kurikulum sekolah,” ujarnya.\r\n   “Untuk  menyelamatkan warisan leluhur yang mempunyai khas dan nilai-nilai budaya yang cukup tinggi tersebut, salah satu solusinya dengan memperkenalkan berbagai budaya Besemah kepada anak dimulai dari SD hingga SMA,” ujar dia. (mkh)

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

10 + 14 =

Berita Populer

Terbaru