Pemkot Pagaralam Akan Tata Sekitar Irigasi Lematang Jadi Lokasi Wisata

KERUSAKAN HUTAN JANGAN DIABAIKAN\r\n\r\n

Wako Ida Fitriati dan Wawako  Novirza Djazuli bersama kepala SKPD terkait saat meninjau lokasi pembangunan irigasi lematang Kecamatan Dempo Tengah

Wako Ida Fitriati dan Wawako Novirza Djazuli bersama kepala SKPD terkait saat meninjau lokasi pembangunan irigasi lematang Kecamatan Dempo Tengah

\r\n\r\nHB, PAGARALAM – Pembangunan irigasi Lematang di Kelurahan Jokoh, Kecamatan Dempo Tengah, masuk kedalam kawasan hutan lindung. Saat ini, sedikitnya 19 hektare lahan dipakai untuk pembangunan Irigasi. Namun, jika irigasi sudah selesai maka kawasan tersebut akan ditata menjadi kawasan wisata hutan kota, agar hutan kembali perawan. Hal ini diungkapkan Wali kota Pagaralam dr Hj Ida Fitriati Basjuni, Minggu.\r\nIa mengatakan, pembangunan irigasi Ayek Lematang berlokasi di Dusun Semidang Alas, Kelurahan Jokoh, Kecamatan Dempo Tengah, tanggul diatas lahan seluas 19,8 hektare yang akan menelan dana Rp273 miliar.\r\nIda Fitriati mengatakan, kondisi di lokasi pembangunan irigasi memang ada beberapa titik jalan menuju bendungan Lematang rawan longsor sehingga perlu dibangun hutan reklamasi setelah proyek ini selesai.\r\nPembangunan irigasi Lematang berada dikawasan hutan lindung ada persoalan yang tidak boleh diabaikan, pada saat pengerjaan tidak boleh dilakukan sembarangan lantaran harus mendapatkan izin dari Kementerian Kehutanan. Izin untuk penggunaan kawasan sudah diterbitkan, namun usai dibangun kawasan tersebut harus kembali menjadi hijau dan mengembalikan hutan.\r\n”Alhamdulillah, pembangunan irigasi Lematang telah berjalan. Akan banyak manfaat yang nantinya didapatkan masyarakat Kota Pagaralam. Selain mendapatkan sumber mata air untuk irigasi, irigasi Lematang juga dapat mengairi 3.000 hektar lahan sawah baru,” kata Ida.\r\nMenurut Ida, usai irigasi Lematang dibangun masih ada pekerjaan rumah yang harus dilakukan Pemkot Pagaralam bersama masyarakat Kota Pagaralam. Dimana, kawasan pembangunan irigasi Lematang harus dihijaukan kembali. Lahan yang ada tidak boleh dibuka baik itu untuk akses maupun lainnya.\r\n”Ada sekitar 60 hektar lahan yang digunakan saat ini. Lahan tersebut harus dihijaukan kembali dan tidak boleh digunakan untuk kepentingan apapun,” tegas Ida.\r\nUntuk penghijauan nanti, tambah Ida, akan membutuhkan ribuan bibit pohon. Dimana, pohon tersebut akan ditanam untuk membuat kawasan hutan lindung tetap terjaga. Jika tidak demikian maka bukan tidak mungkin pengerusakan hutan lindung akan terjadi dan meluas.\r\n”Biasanya jika ada akses jalan banyak yang membuka lahan. Jadi, upaya tersebut akan kita larang dengan keras. Masyarakat jangan merambah hutan karena kerusakan hutan akan membuat ekosistem terganggu baik flora dan fauna, keseimbangan alam dan lainnya.\r\nSementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Pagaralam Jumaldi Jani mengatakan, saat ini lahan hutan lindung yang dikelolah masyarakat sudah didata dan dilaporkan ke Kementerian Kehutanan. Jadi, data tersebut tidak akan bertambah. Jika jumlah lahan bertambah, berarti perambahan hutan lindung kembali terjadi dan pelaku akan ditindak tegas.\r\n”Kita sudah menyampaikan kepada masyarakat yang sudah terlanjur merambah hutan lindung untuk dikembalikan dengan negara. Kalau izinnya sudah keluar dan akan ditindak tegas bagi pelaku yang terus merambah hutan lindung berdasarkan undang-undang kehutanan,” ungkap dia. (mkh)

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

1 × two =

Berita Populer