Foto : @mahani mahani/facebook

PERLUKAH PETANI TRIGONA MEMPRODUKSI PROPOLIS CAIR AGAR KESEJAHTERAAN MEREKA MENINGKAT?

Oleh: Mahani
* Dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian UNPAD
** Koordinator Konseptor SNI Propolis Cair
Pelaku Industri Propolis Cair
Pelaku Breeding Lebah Trigona

Akhir-akhir ini saya “kebanjiran” permintaan untuk memberikan training pembuatan propolis cair dari berbagai pihak, hingga saya kerepotan untuk merespon, menjelaskan dan menolaknya secara halus.

Perbedaan Propolis Cair dan Madu
Madu dan propolis cair sama-sama popular di pasar. Harga propolis cair di pasar cukup fantastis, tentu saja menjadi magnet kuat dan diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani trigona jika mereka bisa mengkomersialisasikannya.
Tetapi karakter propolis cair dan madu berbeda.

Madu oleh BPOM bisa dikategorikan pangan maupun obat tradisional. Jika didaftarkan sebagai pangan, maka ijinnya MD. Jika didaftarkan sebagai obat tradisional maka ijinnya POM TR. Madu terkategori produk low risk. Oleh karena itu madu pun boleh didaftarkan dengan ijin PIRT, atau bahkan tanpa ijin edar sekalipun tidak akan mendapat teguran BPOM dan tindakan tegas aparat kepolisisan.

Sedangkan propolis cair terkategori obat tradisional dengan ijin POM TR dan berkarakter high risk. Oleh karena itu, produksi dan peredarannya diatur sangat ketat. Jika ada pihak yang memproduksi dan mengedarkan propolis cair secara illegal tentu akan mendapat teguran BPOM dan tindakan tegas aparat kepolisian.

Berbeda dengan produsen madu, produsen propolis cair harus memenuhi syarat dan ketentuan secara ketat. Misalnya harus memiliki akta perusahaan, Nomor Induk Berusaha (NIB), Ijin Usaha Industri (IUI), Tanda Daftar Perusahaan (TDP) hingga memiliki sertifikat Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) dan sertifikat Cara Pembuatan ObatTradisional yang Baik (CPOTB).

Bagaimana Cara Meningkatkan Kesejahteraan Petani Trigona?

Memang benar, propolis merupakan hasil lebah trigona yang paling tinggi nilai ekonominya. Tetapi apakah dengan cara mendorong petani dan atau kelompok tani trigona memproduksi propolis cair mampu menjamin peningkatan kesejahteraan mereka? TIDAK.

Kesejahteraan petani bukan ditentukan oleh kemampuan mereka memproduksi propolis cair. Tetapi ditentukan oleh kemampuan mereka menciptakan “Transaksi Penjualan”. Mari kita perhatikan. Bukalapak, shopee dll tidak punya pabrik makanan dan minuman, tidak punya pabrik baju, tidak punya pabrik tas, tidak punya pabrik kosmetik dll. Tetapi mereka mampu menciptakan “transaksi” dengan jumlah fantastis, maka mereka sejahtera. Grab dan Gojek tidak memiliki armada, tetapi mereka mampu menciptakan banyak transaksi, maka mereka sejahtera.
Oleh karena itu, yang perlu kita pikirkan bersama adalah bagaimana agar para petani atau kelompok tani trigona bisa menciptakan “Transaksi” propolis cair. Tentu propolis cair yang legal dan berkualitas. Disinilah perlu dikembangkan kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk dengan industri propolis cair. Beberapa skema kemitraan bisa ditempuh, misalnya barter, maklon dll.

Dengan skema ini, petani dan kelompok tani bisa melakukan “transaksi” propolis cair secara legal. Skema ini telah terbukti di lapangan, misalnya [ada kelompok tani di Provinsi Sulawesi Selatan. Bahkan karena transaksi penjualan propolis ini lebih menjanjikan, ditemukan seorang anggota kelompok tani sibuk menjual propolis cair dan menelantarkan lebah trigonanya.

Jika memilih mendorong petani dan kelompok tani memproduksi propolis cair, maka yang akan terjadi program ini akan mangkrak. Harus jujur kita akui, produksi madu yang persyaratannya jauh lebih ringan, banyak diantara petani kita yang tidak mampu memenuhinya. Kalaupun bisa memproduksi propolis cair apakah memenuhi aspek legalitas? Apakah mampu membangun bisnis industri propolis secara sehat?

Upaya meningkatkan kesejahteraan petani trigona perlu dilakukan dengan pendekatan sistemik. Sebuah sistem ekonomi akan sehat bila komponen-komponen penyusunnya bersinergi. Jika anggota petani, ketua kelompok tani, akademisi, peneliti, pelaku usaha, pemerintah dan seluruh stakeholder bekerja sesuai fungsi dan tanggungjawab masing-masing, maka propolis cair nasional akan kompetitif di pasar dan mampu memberikan dampak yang luas bagi kesejahteraan bersama. Aamiin.

Tulisan singkat ini sebagai bahan renungan kita bersama, para pegiat perlebahan, khususnya lebah tanpa sengat (Trigona)

 

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

three × 5 =

Berita Populer

Berita Sumsel

iklan kpu