Permainan Tradisional Versus Permainan Digital

Oleh: Nurhayati Budiyanti, S.Pd.

Penulis adalah Pegiat literasi dan guru SMP Negeri 12 OKU.

 

Kini kita hidup di era digital, jamannya teknologi canggih, kata orang “dunia dalam genggaman”. Artinya kita bisa melakukan apa saja hanya dari ujung jari kita. Tinggal usap layar, klik-klik, semua urusan beres. Berbagai kegiatan yang dahulu hanya bisa dilakukan dengan cara tatap muka seperti belajar, bermain, mengaji, seminar, rapat, berjualan, sampai ngerumpi pun sekarang dapat kita lakukan dengan ‘hanya’ mengusap layar. Termasuk dalam hal permainan anak-anak. Beragam permainan yang didukung teknologi semakin banyak kita jumpai. Permainan yang di-instal di komputer maupun ponsel pintar mudah diakses, tidak sedikit orangtua yang memfasilitasi anak-anaknya dengan beragam permainan digital ini agar anak-anak betah di rumah serta tidak merepotkan orang tua. Benar, alasan orang tua memberikan fasilitas gawai dan permainan digital adalah agar anak tidak mengganggu atau merepotkan aktivitas orang tua.

Tidak heran jika kemudian anak-anak jaman now tidak mengenal permainan tradisional. Padahal negara kita kaya akan budaya dan seni, termasuk permainan tradisional yang menyenangkan dan memiliki banyak manfaat. Faktanya anak-anak milenial lebih memilih berdiam di kamar ber-AC untuk bermain game digital ketimbang berpeluh keringat bermain di luar. Memang tidak dipungkiri selain faktor kenyamanan, ada juga faktor keamanan mengingat zaman telah berubah. Tingkat kriminalitas cukup tinggi dan merosotnya moral membuat orang tua khawatir dan meningkatkan kewaspadaan dengan mengurung anak-anaknya di rumah. Akan tetapi ibarat dua sisi mata uang, tentu ada positif negatif dari setiap pilihan.

Bermain di dalam rumah sepanjang waktu memiliki kelebihan nyaman dan aman. Namun justru dampak negatifnya lebih banyak. Di antaranya perkembangan motorik anak terhambat, anak sulit berinteraksi/ bersosialisasi dengan orang lain, malas gerak, pasif dengan kehidupan nyata, daya tangkap dan konsentrasi rendah, mudah marah, mengamuk, dan apabila sampai kecanduan dapat dikategorikan sebagai gangguan jiwa.

Berbeda ketika beberapa tahun atau beberapa puluh tahun yang lalu, ketika kita masih kecil lebih mengenal permainan-permainan tradisional seperti egrang, bakiak, congklak, kelereng, bekel, gobak sodor, petak umpet, engklek, dan lain-lain. Melihat banyak dampak negatif yang ditimbulkan permainan digital, maka sangat perlu kita lestarikan kembali permainan-permainan tradisional. Sebagian besar hampir punah ditinggalkan oleh generasi-generasi muda saat ini. Indonesia sebagai negara yang kaya akan warisan budaya dari bebagai penjuru daerah, ini merupakan potensi lokal yang patut kita lestarikan.

Biasanya setiap daerah memiliki permainan-permainan tradisional masing-masing.

Beberapa manfaat permainan tradisional :
1. Anak belajar interaksi sosial. Tentunya melalui permainan tradisional anak akan belajar berinteraksi sosial dengan teman-temannya dan ini sangat baik agar anak ke depan mampu beradaptasi dengan lingkungan.

2. Melatih kerjasama. Melalui permainan tradisional dapat membuat anak belajar bekerjasama.

3. Melatih kreativitas. Permainan tradisional adalah permainan yang tidak memiliki peraturan tertulis. Terkadang peraturan permainan adalah hasil kesepakatan semua anggota, dalam hal ini tentu dapat berkreasi agar permainan menjadi menarik.

4. Manajemen emosi. Hampir setiap permainan tradisional dilakukan secara kelompok, dalam hal ini dapat membangun emosi anak timbul toleransi, empati terhadap orang lain, sikap sportif, pemaaf, dan mengelola marah.

5. Menyehatkan. Kegiatan di luar rumah tentu melibatkan gerak anggota tubuh seperti berlari, melompat, dan sebagainya sehingga melatih fisik anak. Tubuh anak akan menjadi sehat dan segar.

Yuk, mulai sekarang kita ajak anak-anak lebih banyak bergerak dan mengenalkan mereka pada permainan tradisional. Dalam skala lebih luas, kita bisa melestarikan dengan mengadakan perlombaan permainan tradisional secara rutin, misalnya saat peringatan kemerdekaan RI. Kita juga dapat membangun komunitas yang konsen mengadakan kegiatan upaya pelestarian dan peningkatan minat pada permainan tradisional.

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

8 − four =

Berita Populer

Berita Sumsel

iklan kpu