Politik, Pertanian, dan OKU Timur

Penulis: Andrie Zuliansyah, S.P.

OKU Timur, merupakan salah satu kabupaten yang dihasilkan dari produk reformasi1998 yang mengamanatkan otonomi daerah seluas-luasnya. OKU Timur dibentuk berdasarkan UU No 37Tahun 2003 pada 18 Desember 2003 dan diresmikan oleh Gubernur Sumatera Selatan pada 17 Januari 2004. Sejak saat itu, OKU Timur menjadi daerah otonomi baru yang memisahkan diri dari saudara tertua, OKU.

Seiring berjalannya waktu, OKU Timur masa kini beranjak remaja menginjak usia 16 tahun. Dengan segala potensi yang dimilikinya, terutama dibidang pertanian,  perkebunan, perternakan, dan perikanan yang menjadi roda pengerak utama perekonomian. Hal tersebut dibuktikan dengan sektor pertanian, perkebunan, perternakan, dan perikanan dalam PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) 2019 menurut harga berlaku OKU Timur menopang 32,15% atau 4,84 triliun dari total 15,06 trilliun. Ini lebih rendah secara persentase dari tahun sebelumnya sebesar 33,53%. Namun, dalam nominal rupiah meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 4,61 triliun.

Dengan dominasi sektor pertanian dan teman-temannya yang padatkarya mampu menjadikan OKU Timur diposisike-2 (dibawah kota Pagar Alam) dengan tingkat kemiskinan terendah di Sumatera Selatan, yaitu 10,43% atau 70.400 jiwa, menurut BPS dalam katalog Provinsi Sumatera Selatan Dalam Angka tahun 2020. Ini relatif rendah jika dibandingkan dengan tingkat kemiskinan Sumatera Selatan sekitar 12,71% atau 1.073.740 jiwa.

Keunggulan kita di sektor pertanian dan teman-temannya, terutama tanaman pangan padi harus dijaga dan ditingkatkan. Kita memang bukan produsen beras nomor satu di Sumatera Selatan (dibawah Kabupaten Banyuasin), tapi tingkat produktivitas  padi pada tahun 2019 tertinggi di Sumatera Selatan, dengan 6,2 ton/hektar. Ini dikarenakan kita ditunjang oleh Bendung Perjaya dan irigasi teknisnya. Sangat beruntung OKU Timur.

Para kandidat cabup dan cawabup yang akan berkompetisi dipilkada serentak nanti harus memahami keunggulan dan membangun OKU Timur berdasarkan kearifan lokalnya, yaitu sektor pertanian, terutama padi. Ada beberapa poin dari penulis yang bisa dijadikan masukan untuk para kandidat pilkada serentak nanti guna menjaga dan meningkatkan keunggulan yang telah ada di OKU Timur.

Pertama, konservasi lahan pangan (sawah) di OKU Timur, terutama di irigasi teknis. Alih fungsi lahan momok yang menakutkan terhadap keberlangsungan ketersediaan pangan. Dalam UU No 41 tahun 2009 tentang  Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) menjamin tersedianya lahan pangan Melalui  penetapan Kawasandan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KLP2B) yang ditetapkan dalam Perda  RencanaTata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Namun, sayangnya di Sumatera Selatan hanya terdapat 3 kabupaten yang telah menetapkan perda mengenai  LP2B (Banyuasin, Muara Enim, dan Musi Rawas) dan baru 3 kabupaten/kota (Muara Enim, OKI, dan Lubuk Linggau) yang memasukan LP2B dalam perda mengenai RTRW  (sumber : Surat Menteri Pertanian Republik Indonesia No 21 tahun 2020). Tidak ada OKU Timur dalam kabupaten/kota yang sudah menetapkan LP2B dalam perda mengenai LP2B maupun Perda RTRW di Sumatera Selatan.

Padahal, potensi besar tanaman pangan (padi) di OKU Timur yang ditunjang dengan irigasi teknis yang baik menjadi hal yang harus dikonservasi keberlangsungannya secara legal formal. Sebab alih fungsi lahan sulit terbendung dalam arus modernisasi, yang lebih menekankan kepada pembangunan infrastruktur bangunan secara fisik. Memang ada mekanisme penggantian lahan persawahan yang dialihfungsikan dengan mencetak lahan sawah baru. Namun, pertanyaan sederhananya apakah apple to apple secara kualitas kesuburan tanah dan irigasinya dengan lahan pertanian sebelumnya, terutama dilahan persawahan irigasi teknis? Ini menjadi tanda tanya besar.

Penulis bukan bermaksud untuk menghambat pembangunan infrastruktur fisik di OKU Timur. Namun, kita harus mempertimbangkan keberlangsungan pertanian yang menjadi ciri khas dan kekuatan ekonomikita selama ini. Pembangunan fisik yang tidak sinergi dengan pertanian, maka pembangunan tersebut menuju kesia-siaan semata. Bahkan, bisa jadi menghancurkan apa yang menjadi kekuatan kita selama ini.

Kedua, meningkatkan porsi industri pengolahan dengan berbasiskan produk pertanian, perkebunan,  perternakan, danperikanan. Potensi besar OKU Timur di bidang pertanian, perkebunan, perternakan, dan perikanan hanya akan bertumpu kepada komoditas bahan baku semata, jika tidak ditopang dengan industri pengolahan. Porsi industri pengolahan dalam PDRB harga berlaku tahun 2019 adalah 9,83% atau senilai 1,48 triliun.

Jamak kita ketahui, jarang terdengar produk olahan dari produk pertanian OKU Timur yang mendapatkan pertambahan nilai yang tinggi secara harga. Contohnya saja padi. Padi hanya mentok bertambah nilainya pada tataran beras. Padahal, diluar sana sudah jamak olahan beras bumbu, baik beras bumbu liwet, kebuli, dan lain sebagainya. Harganya berkisar Rp 20.000–60.000 per 500 gram. Dengan harga seperti itu terjadi pertambahan nilai yang berkali-kali lipat dari harga normal beras biasa dipasaran. Itu baru satu produk pertanian saja. Jika beberapa dari produk pertanian, perkebunan, perternakan, dan perikanan dilakukan pertambahan nilai melalui industri pengolahan, tentu akan memberikan dampak yang cukup signifikan bagi perekonomian OKU Timur.

Ketiga, perbaikan infrastruktur jalan OKU Timur. Infrastruktur jalan menjadi permasalahan yang umum  di daerah pedesaan. Jalan yang belum sepenuhnya memenuhi harapan masyarakat guna menghubungkan antar desa atau kabupaten/kota lainnya menjadi titik tekan yang penting guna menunjang perekonomian masyarakat OKU Timur. Kita sadari untuk membangun infrastruktur jalan tidaklah dengan biaya yang sedikit, tapi inergisitas antara pemkab, pemprov, dan pemerintah pusat mampu mewujudkan itu semua, minimal ketataran layak untuk dilewati. Tidak perlumuluk-muluk untuk itu.

Ketiga poin masukan tersebut, tentu bukanlah panacea (obat mujarab ) yang ujug-ujug dan pasti membereskan OKU Timur. Tapi setidaknya mampu menjadi oase ditengah padang pasir. Memang masukan-masukan tersebut, bisa dikatakan agriculture heavy (berat kebidang pertanian). Itu semua tidak lain,karena OKU Timur adalah kabupaten yang basicnya adalah pertanian. Maka, aneh jika bicara dan bertindak memajukan OKU Timur tidak diawali dari sektor pertanian.

Kita butuh bupati dan wakil bupati OKU Timur kelak yang fokus pada bidang pertanian dan melakukan pembangunan yang bernapaskan pertanian, bukan menjanjikan OKU Timur daerah yang penuh bangunan tinggi menjulang dan minim Lahan pertanian. Menjadi penunjuk arah bagi para petani, bukan membiarkan petani berjibaku sendiri menghadapi persoalan ekonomi dan pertanian. Jika ada calon bupati dan wakil bupati yang fokus kepada sektor pertanian dan melakukan ketiga poin masukan diatas, maka penulis mengajak masyarakat OKU Timur untuk mendukung dan mengawal kebijakannya jika nanti terpilih. Bersama kita jayakan OKU Timur dengan Pertanian.

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

19 − 9 =

Berita Populer

Berita Sumsel

iklan kpu