Rakyat Sumsel Merugi Rp 1,2 Trilyun Setiap Tahun Dari Tanaman Karet

Oleh : Dr. Dwi Putro Priadi
Ketua DPW Perhimpunan Petani Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) Sumatera Selatan

Latex putih bersih keluar dari sadapan petani karet. Latex bersih ini dibekukan oleh petani menjadi slab. Tapi, sebelum latex beku, petani mencampurkan kotoran ke latex bersih tersebut. Setelah beku pun slab masih direndam di air lumpur. Tentu slab yang dihasilkan adalah slab kotor. Ketika mencampurkan kotoran ke slab, petani berniat untuk menipu pabrik. Lama-lama petani tak lagi merasa berdosa ketika mengotori slab untuk melebihkan berat slab mereka. Petani kita tak lagi ingat akan keberkahan dalam bertani.

Ketika menjual slab kotor, petani merasa sudah ‘pintar’, bisa menipu pabrik. Tapi, sesungguhnya pabrik itu lebih pintar lagi. Sesungguhnya, pengotoran slab petani itu sangat melemahkan posisi tawar petani. Slab kotor itu tak bias dijadikan ban, tak bias dijadikan alas sepatu, tak bias jadi bahan kompon. Tak bisa jadi apa-apa, sebelum dibersihkan dulu. Satu-satunya yang dapat membersihkan slab kotor itu adalah pabrik crumb rubber. Artinya, satu-satunya yang mau dan mampu membeli slab kotor itu hanyalah pabrik crumb rubber. Jadi, pasar slab kotor itu adalah monopsoni. Saat petani membawa slab kotor mereka ke pabrik crumb rubber, pabrik memberi harga pembeliaan sangat rendah. Ibaratnya, pabrik itu bilang ke petani: ‘kalo mau harga Rp 5000,-/kg silahkan bawa masuk, kalo tak mau silahkan bawa pulang slab kotor kamu!’. Petani tak punya pilihan, terpaksa menerima harga yg mutlak ditentukan pabrik.

Seandainya petani menghasilkan latex bersih, diproses jadi sheet bersih, petani bisa menjualnya kemana petani mau. Bisa langsung dijual ke pabrik ban, pabrik kompon, pabrik alat kendaraan bermotor, pabrik sepatu, dan banyak lagi. Bahkan, petani bisa mengekspor sendiri. Sudah tentu petani bisa memilih harga yang cocok.

Kerugian lain yang diderita petani karet adalah biaya pengangkutan dan pembersihan slab kotor. Pengangkutan slab kotor tentu lebih mahal karena selain mengangkut
karet, juga mengangkut kotoran dan air. Tentu biaya angkutan ini dibebankan ke harga slab petani. Kalau kandungan air dan kotoran slab petani itu 10%, maka dari total produksi karet petani Sumsel yg 1 juta ton itu, ada 100rb ton air dan kotoran. Jika biaya pengangkutan Rp100,-/kg, maka uang petani sebesar Rp 10milyar setiap tahun terbuang percuma. Jika uang itu digunakan membangun gudang petani, akan sangat menguntungkan petani karet.

Kerugian yang lebih besar diderita petani karet adalah biaya pembersihan slab kotor, mencapai Rp 1200,-/kg. Ekspor karet Sumsel mencapai 1 juta ton per tahun. Artinya, total biaya pembersihan slab kotor oleh pabrik crumb rubber menghabiskan uang petani sebesar Rp 1,2trilyun per tahun. Uang sebesar itu bisa digunakan utk membangun pabrik ban, dari pada cuma utk membersihkan kotoran. Belum lagi, polusi yg ditimbulkan oleh karet kotor dan penggunaan bahan pembeku latex yang beracun. Pembersihan slab kotor memerlukan banyak air. Air kotor bekas pencucian slab kotor, oleh pabrik dibuang ke sungai.

Masih ada kerugian lain, yang diderita petani karet kita. Seluruh pabrik crumb rubber di Sumsel itu milik pengusaha asing. Kalo saya misalnya sebagai pengusaha sepatu mau membeli karet bersih hasil produksi pabrik crumb rubber di Palembang, saya harus membelinya dari ’pemilik’ pabrik yang berkantor di Singapore, dan saya harus membelinya dalam dollar. Jadi, pabrik membeli karet petani dengan harga rupiah dan murah, lalu menjualnya dengan harga dollar dan lebih tinggi.

Sesungguhnya, semua kerugian itu bukan saja kerugian petani, tapi kerugian ekonomi Sumsel, bahkan kerugian ekonomi Negara Indonesia. Kondisi slab kotor ini bukan saja terjadi di Sumsel, tetapi juga terjadi di seluruh provinsi penghasil karet Indonesia.

Sudah tentu kita harus melakukan upaya untuk menghentikan ‘keterjajahan’ ini yang sudah berlangsung puluhan tahun. Sungguh kebodohan besar kalo kita membiarkan saja, tak memiliki kepedulian atas kerugian yang sangat besar ini, bukan hanya uang, tetapi juga kerusakan moral petani.

Upaya ini diawali dengan merubah hasil yang dijual petani, bukan slab, tetapi latex bersih. Lalu, latex bersih ini dijual ke perusahaan perkebunan karet yang memproses latex menjadi sheet. Sesungguhnya, kerjasama antara petani dan perusahaan perkebunan ini saling menguntungkan asal kedua pihak jujur dan patuh dg kesepakatan.

Kemungkinan lain, latex petani ini diolah kelompok petani sendiri menjadi sheet. Sudah tentu pendirian pabrik pengolahan ini membutuhkan modal awal (tak sampai Rp 1milyar,-). Upaya pengorganisasian petani ini membutuhkan manusia-manusia cerdas berpengalaman yang ikhlas mendampingi petani, dengan imbalan yang sangat minim. Manusia pendamping petani inilah yang langka ditemukan.

Tentu, jika pimpinan daerah berkehendak, support yang signifikan akan mungkin diwujudkan sehingga memudahkan tenaga pendamping kelompok tani untuk memulai membangun bisnis kelompok petani.

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

three × four =

Berita Populer

Berita Sumsel

iklan kpu