Almuhajirin, M.Pd / dok. pribadi

Rose Kamila Ilmi; Tentang Do’a Dan Harapan

Oleh : Almuhajirin, M.Pd
(Dewan Pengarah Pemuda Tani HKTI Sumsel)

Ada anggapan ditengah-tengah masyarakat kita bahwa mempunyai anak adalah ‘aib dan beban. Sehingga tidak jarang kita mendengar orang tua menyesal dan berucap sumpah serapah kepada anaknya sendiri. Lebih dari itu tidak jarang pula kita melihat fenomena orang tua yang dengan sadar pergi ke suatu tempat, daerah bahkan suatu negara dengan meninggalkan anaknya. Alasannya adalah demi anaknya jua, mencari cuan untuk keberlangsungan hidup keluarga. Namun yang paling membuat hati kita bertanya dan heran, ada orang tua yang bahkan rela membuang anaknya sendiri dengan dibungkus menggunakan kain, perlak bayi atau handuk lalu dimasukkan di dalam kardus kemudian diletakkan didepan rumah orang lain bahkan dengan teganya ada pula yang meletakkan bayi di kotak sampah. Fenomena yang terakhir ini biasanya dikarenakan hubungan diluar nikah yang dilakukan oleh muda-mudi, yang mungkin dilatarbelakangi oleh pergaulan bebas, lemahnya pengawasan orang tua, lemahnya pemahaman tentang kebaikan dan keburukan (Iman), boleh dikatakan mereka adalah korban dari hedonisme.

Namun disisi lain banyak sekali pasangan, orang tua bahkan manten baru yang begitu mendambakan kehadiran buah hati. Ada pasangan yang telah lama menikah tetapi belum diberi amanah kehadiran buah hati, mereka tetap bersabar dan berikhtiar. Ada pasangan pengantin baru yang begitu bahagia ketika beberapa bulan setelah menikah, istrinya dinyatakan positif hamil. Bahkan banyak juga orang yang memiliki anak yang banyak, karena menurut mereka banyak anak banyak rezeki. Hal ini juga dapat kita ambil hikmah dari cerita orang-orang dahulu terutama raja-raja kerajaan khususnya di tanah Jawa, banyak anak merupakan manifesto dari seorang laki-laki. Yang bahkan lebih menarik adalah bahwa bukan hanya banyak anak saja mewakili akan kejantanan seseorang, adalah banyak istri juga merupakan sebuah entitas akan kemaskulinan seorang laki-laki. Sebagai contoh,  Raja Pakubuwono X memiliki selir hingga 40 orang, dan hasilnya beliau memiliki 60 anak.

Dalam konteks ini apa yang dilakukan oleh Raja Pakubuwono X misalnya, banyak istri bukan hanya urusan “ranjang” saja. Ada motivasi lain yaitu, motif politik, simbol kekuatan dan kekayaan, wilayah kekuasaan dan tentu saja akan berdampak pada transaksi yang menguntungkan. Setelah Indonesia tidak lagi berbentuk kerajaan, Bung Karno masih melanjutkan tradisi Raja Pakubuwono X diatas. Setidaknya Bung Karno memiliki 9 orang istri, mulai dari janda, siswi SMA, kawin gantung hingga seorang entertainer Jepang yang digosipkan sebagai seorang geisha. Tapi apapun motivasinya, hanya Bung Karno lah yang tahu betul akan perjalanan kidung cintanya.

Terlepas dari persoalan diatas, anak ibarat dua mata pisau. Ia bisa menjadi anugerah juga fitnah. Dalam terminologi Islam setiap anak dilahirkan fitrah. Nurcholish Madjid dalam retorikanya membagi fitrah manusia menjadi dua bagian, yakni fitrah majbulah dan fitrah munazzalah. Fitrah majbulah merupakan fitrah bawaan manusia yang berupa persaksian sekaligus perjanjian manusia dengan Tuhan bahwa manusia hanya akan menyembah, tunduk dan patuh kepada Tuhan Semesta Alam. Yang kemudian menurut Cak Nur disebut sebagai perjanjian primordial. Selanjutnya fitrah munazzalah adalah fitrah turunan berupa wahyu (agama), dalam hal ini adalah Islam. Fitrah yang kedua ini akan membawa manusia menuju fitrah alaminya. Dengan kedua fitrah ini, manusia akan tahu dan sadar siapa dirinya yang sesungguhnya dan hubungannya dengan Tuhan. Dari sana kemudian akan memancar nilai-nilai kemanusiaan universal, seperti nilai kebebasan, keadilan, kesamaan, toleransi dan pemeliharaan kehidupannya.

Al-Ghazali, seorang ulama besar dan seorang pemikir hebat secara dialektis menginterpretasikan fitrah sebagai iman kepada Allah, Al-Ghazali berpendapat bahwa setiap manusia diciptakan atas dasar Tauhid. Interpretasi ini hasil dari penafsiran beliau terhadap Al-Qur’an salah satunya QS. Ar-Ruum ayat 30. Kemudian Al-Ghazali melanjutkan, fitrah sebagai dorongan ingin tahu untuk mencari hakikat kebenaran yang merupakan daya untuk berfikir. Sehingga setiap manusia diciptakan dengan membawa dorongan rasa keingin tahuannya terhadap sesuatu, namun kebiasaan, pelatihan dan lingkungan akan mempengaruhi rasa keingin tahuannya itu.

Ismail Raji Al-Faruqi menyatakan manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih dan dapat menyusun drama kehidupannya, tak peduli dilingkungan masyarakat, keluarga macam apapun ia dilahirkan, ini adalah fitrah.

Fitrah, akar katanya adalah fatara yang berarti cipta (penciptaan dan menciptakan). Dalam Al-Qur’an terdapat kata fitrah sebanyak 19 ayat pada 17 surat dengan segala bentuk kata jadinya. Akan tetapi, secara umum manusia memahami fitrah sebagai tabiat, pembawaan, sifat, watak dan karakter seseorang. Setiap orang tidak dibatasi untuk memberikan interpretasi akan hal ini, karena setiap orang berfikir, berucap dan bertindak beranjak dari episteme dan being-nya masing-masing.

Kalau kita tela’ah secara metafisik, sebetulnya setiap orang tua tentu akan bahagia dengan kehadiran buah hati, dan dengan kehadiran anak akan menambah semangat dalam mengarungi kehidupan. Setiap orang tua akan melakukan yang terbaik untuk buah hati, mulai dari memberi nama yang baik, merancang masa depan anak dengan baik dan berjuang menafkahi anak dan istri. Hal ini juga merupakan fitrah sebagai seorang manusia.

Sebagai bentuk rasa bahagia dan syukur akan kehadiran si buah hati kami. Maka tulisan ini dibuat.

Rose Kamila Ilmi, adalah nama yang dipersiapkan untuk anak kami. Perumusan akan nama ini tidak begitu gampang seperti kita menamai hewan peliharaan, kadang mencari nama untuk hewan peliharaan juga lumayan sulit. Namun pemberian nama anak kami juga tidak sesulit dalam upaya memakzulkan Soeharto melalui gelombang reformasi dengan ritme yang intens dan panjang.

Rose Kamila Ilmi terdiri dari tiga suku kata. Rose, secara eksplisit kata ini berasal dari Bahasa Inggris, yang artinya bunga mawar. Kita tidak perlu menyoal kata ini terlalu jauh, karena memang tidak ada kata serapan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan kata ini. Selanjutnya Kamila, kata ini berasal dari Bahasa Latin dan Al-Qur’anul Karim. Kamila dalam Bahasa Latin yaitu Camilla. Camilla merupakan bentuk feminim dari Camillus yang artinya adalah bangsawan, orang yang bebas dan pelayan kuil.  Sedangkan Kamila dalam Al-Qur’an penulis temukan pada surat Al-Baqarah ayat 196, yang artinya sempurna atau bisa juga kesempurnaan. Terakhir adalah Ilmi, tentu saja kata ini berasal dari Al-Qur’an. Penulis banyak menemukan kata ilmi di dalam Al-Quran, seperti QS. Hud: 11, QS. Al-Baqarah: 255, QS. An-Nisa: 162, QS. Al-Jasiyah:17 dan QS. Al-Mujaadilah:11. Ilmi artinya ilmu boleh juga pengetahuan.

Seacara filosofis, Rose atau bunga mawar merupakan bunga yang indah, menawan, harum dan biasanya digunakan sebagai media untuk mencurahkan kasih sayang dan cinta kepada pasangan. Namun dibalik kelebihannya itu, bunga mawar juga memiliki duri. Artinya tidak semua orang mampu untuk memetiknya. Jadi, anak perempuan yang cantik ini akan mampu menjaga marwah dirinya, tidak mudah putus asa, tidak mudah baperan terhadap dunia, tidak gampangan karena secara implisit itulah makna dari mawar berduri. Kamila, anak perempuan yang sempurna, baik secara fisik, mental, pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dan Ilmi, adalah ilmu dan pengetahuan yang harus dipelajari, digali, dikuasai dan diaktualisasikan. Karena dengan ilmu, ia akan mampu menjadi manusia seutuhnya dan menjadi hamba yang memahami dan melaksanakan perintah Allah Robbul Jalil, Tuhan yang transenden itu. Sejatinya, Kamila tidak akan sempurna tanpa adanya Ilmi. Kesempurnaan Kamila salah satu indikatornya adalah Ilmi.

Thomas Alfa Edison mampu menerangi dunia dengan lampu (sekarang listrik) dengan ilmu pengetahuan, Muhammad Al-Fatih mampu mengejawantahkan hadits Rasulullah tentang bagaimana menaklukkan Konstantinopel dengan ilmu pengetahuan, Iran saat ini mampu ”menakuti” Amerika dengan nuklirnya tentunya juga berkat pengembangan ilmu pengetahuan, dan yang paling utama adalah Umat Islam mampu keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang tentulah dengan ilmu pengetahuan dan agama yang dibawa oleh seseorang yang paling progresif revolusioner yang pernah ada yakni Rasulullah saw.

Akhirnya, do’a dan harapan kami adalah Rose Kamila Ilmi, seorang perempuan yang cantik, yang mempunyai marwah dan harga diri yang sempurna karena ilmu (baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat). Semoga coretan ini tidak membuat pembaca eneg, ini murni sebagai bentuk rasa bahagia dan rasa syukur penulis akan kelahiran putri pertama kami.

 

Selamat datang Rose.

Alhamdulillah ‘Ala Kulli Hall.

Allahumma Sholli ‘Ala Muhammad.

 

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

3 + fourteen =