Cerpen : Seruling Sang Gembala

 

Sepulang sekolah, Darti langsung merebahkan tubuhnya di pembaringan kamar. Matanya tajam menatapi langit-langit berwarna putih terang. Pikirannya masih terkesima pada kisah yang diceritakan Bu Tika—guru bahasa Indonesianya—tentang seorang penggembala yang mahir memainkan seruling. Kata Bu Tika, Sang Gembala kerap menaiki punggung kerbau yang digembalakannya sembari memainkan alat musik tiup tersebut. Suara dari seruling Sang Gembala terdengar sangat merdu, hingga para petani yang kebetulan melintas akan berhenti sejenak demi untuk mendengarkan lantunan serulingnya.

Cerita itu persis dengan gambar yang pernah dilihat Darti saat menjelajahi internet di ruang Multimedia Sekolah. Dimana seorang anak berusia sekitar sepuluh tahunan, bertelanjang dada menunggangi kerbau sembari meniup seruling.

Bisa jadi Cerita Bu Tika terinspirasi dari gambar tersebut, batinnya.

Lamunan Darti seketika buyar saat sayup-sayup terdengar lantunan seruling menyeruak ke jendela kamarnya. Ia pasang telinganya dengan seksama untuk memastikan sumber suara tersebut. Kian lama suara itu kian terdengar jelas mengalir ke liang telinganya. Menelusup syahdu ke relung hatinya.

Perlahan Darti turun dari tempat tidur dan melangkahkan kaki ke arah jendela. Tangannya yang lentik menyibak hordeng tipis bergambar bunga mawar yang menutupi sebagian daun jendela. Tatap matanya berkeliaran mencari sumber suara.

Di kejauhan, di tengah persawahan yang habis dipanen, dilihatnya seorang bocah laki-laki yang seumuran dengannya tengah asyik meniup seruling dengan irama khas tanah Sunda. Siapa dia? Darti tak mengenalnya. Bocah bertelanjang dada itu santai duduk di atas punggung kerbau yang tengah berkubang di tengah pematang yang telah membentuk kubangan lumpur.

Tanpa pikir panjang Darti bergegas keluar rumahnya menuju ke arah bocah gembala tersebut. Alangkah riang hatinya sewaktu tiba di persawahan itu, disaksikannya beberapa temannya juga telah berada di sana. Sekitar tiga orang teman laki-laki dan dua orang teman perempuannya asyik berlarian di sepanjang pematang. Perhatiannya kembali tertuju pada Sang Gembala yang masih asyik memainkan seruling di atas punggung kerbau.

“Darti, hayo kemari!” Nisa—salah satu temannya yang sejak tadi berlarian di pematang—berteriak memanggil. Dia bersama teman-teman yang lain kini telah berada di tengah persawahan, tak jauh dari Sang Gembala.

Darti terkekeh melihat aksi jenaka mereka yang telah mengubah warna kulit dengan lumpur-lumpur persawahan. Sang Gembala melihat ke arahnya sembari melambaikan tangan. Tanpa pikir panjang ia menceburkan diri ke sawah dan berlari menuju ke tempat teman-temannya. Tiba-tiba sesuatu melayang ke arah lehernya. Darti melihat namun tak sempat tuk mengelak.

“Plak…!” Lumpur basah yang dilemparkan Badrul tepat mengenai lehernya. Darti meraba yang lehernya yang terasa sedikit panas. Sisa-sisa lumpur tersebut masih menempel di lehernya dan sebagian lagi meleleh ke baju hingga warnanya berubah kecoklatan.

Kelima temannya dan Sang Gembala tertawa serentak melihat Darti yang sempat kebingungan. Seketika emosi Darti sirna ditelan tawa teman-temannya. Tangannya mengaut lumpur di sekitar kakinya dan berlari ke arah temannya dengan tangan siap melemparkan lumpur yang tergenggam.

Tetapi sial… lumpur yang dilaluinya semakin dalam hingga kakinya semakin sulit untuk melaju. Darti mengambil inisiatif untuk melemparkan langsung lumpur yang masih digenggamannya.

“Plak…!” Naas lemparannya mengenai dada Si Gembala yang sedari tadi perhatiannya teralih kepadanya.

Wajah Darti memerah menahan malu dan rasa tak enak hati. Segera didekatinya Sang Gembala.

“Maaf, ya! Tidak sengaja.”

“Tidak apa, santai saja!” Sang Gembala menimpali dari atas punggung kerbau dengan tersenyum lebar.

“Eh, kau siapa? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya,” tanya Darti.

“Kau benar tak mengenaliku?”

Mendengar jawaban Sang Gembala, Darti kian meperhatikan wajah anak lelaki itu dengan seksama.

“Iya sepertinya aku pernah mengenalmu! Tapi di mana, ya?” Darti mengernyitkan keningnya, berusaha keras mengingat-ingat.

“Ah, sudahlah. Kau tak bakalan ingat. Aku memang datang dari masa lalu. Tepatnya lima belas tahun lalu.”

“Hah…? Maksudmu?”

“Hehe… kenapa kau kemari, Darti?”

Darti semakin kaget, ternyata anak itu tahu namanya. Tetapi rasa penasaran yang menghantui sejak dari rumah membuatnya enggan berpikir terlalu banyak. Dari masa lalu? Ah, anak itu pasti bercanda.

“Aku penasaran saat mendengar suara serulingmu. Seumur hidup baru kali ini aku mendengarnya. Baru kali ini pula aku melihat seorang anak menggembalakan kerbau. Persis dengan yang diceritakan Guru Bahasa Indonesiaku.”

“Mau mencoba?” Gembala itu menjulurkan serulingnya pada Darti.

Darti menggelengkan kepalanya. “Aku tak bisa memainkannya. Sampai kelas lima esde ini aku belum pula dikenalkan di sekolah. Kami dianjurkan untuk menguasai internet.”

“Baiklah kalau begitu, sini kuajarkan!” Sang Gembala mengulurkan tangannya—mengajak Darti turut menunggangi punggung kerbau.

“Aku takut!”

“Tak usah takut, kerbau ini jinak padaku.”

Ragu-ragu Darti menyambut uluran tangan Sang Gembala. Dengan sekali hentakan ia sudah berada di atas punggung kerbau berukuran besar tersebut. Sang Kerbau hanya menggeliat seakan tak perduli pada yang terjadi di atas punggungnya. Dia tetap asyik merendam tubuhnya.

Darti kini berhadap-hadapan dengan Si Gembala.

“Kuajarkan kau sebuah lagu. Perhatikan jari-jariku,” ujar Si Gembala sambil memperlihatkan jari-jari kirinya yang menutupi lobang seruling.

Anak lelaki itu mulai memainkan sebuah nada lagu. Darti tahu itu dalah lagu Indonesia Pusaka yang pernah diajarkan di sekolah. Dengan kefokusan penuh ia perhatikan gerakan jemari Sang Gembala hingga lagu itu pun usai dibawakan.

“Sekarang giliranmu!” Sang Gembala menyodorkan serulingnya pada Darti.

Kali ini Darti menyambut seruling itu dengan penuh percaya diri. Rekah wajahnya menandakan kebahagiaan tiada tara melingkupi hatinya.

Darti meniup seruling tersebut dengan jemari mengikuti gerakan yang dilakukan Gembala tadi. Tetapi semangat yang terlalu menggebu dan rasa percaya diri yang berlebihan telah membuatnya melupakan sesuatu hal. Permainan serulingnya terhenti. Sang Gembala mengangkat kedua bahunya.

“Aku lupa pada yang kau lakukan tadi.”

Sang Gembala tertawa terkekeh, menunjukkan barisan giginya yang putih dan rapi.

“Kalau begitu, kau dengarkan saja aku memainkannya. Sembari berkeliling.”

“Berkeliling?”

“Iya, keliling. Sekarang putar tubuhmu menghadap ke depan.”

Darti memutar posisi duduknya menghadap ke depan—berbelakangan dengan Sang Gembala. Sang Gembala menepuk pundak kerbau pelan. Perlahan Kerbau mengangkat tubuhnya dengan hati-hati seakan tengah ditunggangi sepasang raja dan ratu. Selanjutnya kerbau berjalan pelan menyusuri setiap jengkal sawah. Teman-temannya yang sedari tadi masih asyik bermain lumpur, kini beralih menyoraki mereka. Seakan para rakyat yang tengah mengelu-elukan para punggawa istana.

Darti yang semula sedikit cemas kini mulai merasa nyaman. Ditatapnya langit senja berwarna lembayung. Sungai yang mengalir tak jauh dari sana menambah kesempurnaan pemandangan. Di belakangnya Sang Gembala mulai beraksi dengan serulingnya. Nada merdu yang mengalun begitu syahdu, laksana nyanyian syair sang pujangga. Kerbau terus berjalan mengitari petak sawah.

“Alangkah indah ciptaanmu, Tuhan. Bersyukur hamba terlahir di desa ini,” gumam Darti pelan.

Sekilas Darti teringat sesuatu dan menoleh pada Sang Gembala.

“Ada apa, Darti?” tanya Sang Gembala.

“Aku jadi lupa menanyakan namamu.”

Sang Gembala tersenyum-senyum. “Boni.”

“Boni?” Darti seperti mengenal seseorang dengan nama itu.

Mendadak Darti merasakan seakan ada yang menggoyang-goyangkan kakinya.

“Darti! Darti!”

Terdengar seseorang memanggil. Suara itu terasa dekat dan tidak asing.

“Darti, bangun, Nak! Sudah sore.”

Samar-samar Darti melihat sosok ibunya. Ia menatap ke sekeliling. Tak ada sawah. Tak ada kerbau. Tak ada suara seruling. Gembala itu? Ia hanya mendapati dirinya di atas tempat tidur dengan pakaian sekolah masih melekat di tubuhnya.

“Kamu bermimpi, ya Nak?” lanjut ibunya bertanya.

Darti tidak menjawab. Seakan belum percaya bahwa yang dialaminya tadi adalah mimpi, ia menghamburkan dirinya keluar rumah, berlari menuju area persawahan. Akan tetapi sia-sia. Area persawahan itu tak ada. Yang ada hanya hamparan batu kerikil bekas galian para penduduk yang mendulang emas secara tradisional. Ditatapnya air sungai yang mengalir dengan sangat keruh. Tak ada kejernihan seperti yang ada dalam mimpinya.

Ada kesedihan menyelimuti Darti sore itu. Tatapannya menjadi kosong dengan mata sedikit berkaca-kaca. Tiba-tiba tatapannya tertumbuk pada seorang pemuda yang tengah duduk di atas sepeda motor yang diparkir di bawah sebuah pohon. Pemuda itu menatap ke arah hamparan kerikil tersebut.

“I—itu, kan…?” Seketika Darti teringat sesuatu. Tanpa pikir panjang ia menghampiri pemuda tersebut.

“Mas Boni?!” Darti kaget saat berada di hadapan pemuda itu. Darti ingat sekarang. Boni merupakan pemuda yang dulu sering disebut namanya karena secara tegas menentang kehendak warga yang ingin mendulang emas hingga ke area persawahan. Tetapi lantaran dia hanya berjuang sendiri dan sungai pun sudah tercemar, dia tak punya daya.

“Eh, Darti.” Pemuda bernama Boni tersebut keheranan melihat tingkah yang ditunjukkan Darti yang tiba-tiba muncul di hadapannya. “Kok, segitunya ngelihatin, Mas? Kenapa?”

Darti jadi tersadar dengan apa yang dilakukannya hingga menjadi kikuk. “Eh, anu… enggak. Mas, kenapa di sini?”

“Mas biasa ke sini. Mengenang sesuatu yang hilang.”

“Hilang?”

“Yah… yang hilang akibat ulah rakus manusia. Para manusia yang menganggap uang adalah segalanya.”

Pikiran Darti kembali melayang pada mimpi yang dialaminya tadi. Sepertinya otak kanak-kanaknya dapat mengerti dengan apa yang diucapkan Boni, Sang Gembala yang hadir dalam mimpinya.

“Oh, iya. Mas Boni punya seruling?” Darti mencoba mengikuti alur mimpinya.

“Seruling?” Boni mengernyitkan keningnya, “Kok, kamu tahu?”

Darti menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Siapa tahu ada, Darti mau pinjam.”

Masih dengan raut keheranan Boni membuka jok motornya dan mengeluarkan sesuatu yang dibungkus dengan kain.

“Benda ini usianya sudah puluhan tahun. Tetap Mas simpan karena penuh kenangan. Darti boleh ambil tapi dirawat, ya!”

“Ambil? Ini dikasih, Mas?”

“Iya. Mas ngasih. Seruling itu kalau sama mas jadi jarang dipakai. Kalau sama kamu, jadinya, kan bisa buat belajar.”

“Wah… terima kasih, Mas. Sekalian buat bukti ke teman-teman Darti, bahwa gambar-gambar gembala dengan pemandangan indah yang ada di internet itu benar-benar pernah ada.”

“Kok… kamu…?”

Belum sempat Boni menuntaskan kata-katanya, Darti telah berlalu dari hadapannya, menyisakan tawa kecil luapan kegembiraannya.

END

 

Karya : Kidung Pramudita

Anggota FLP Cabang Lahat

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

three × three =

Berita Populer

Terbaru