Sudah Saatnya, Lahat Benar-Benar ‘Bercahaya’

Oleh : M. Yanuar Anoseputra SPdI
Rakyat Indonesia yang lahir di Lahat

Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Suku bangsa itu pada zaman dulu, memiliki sistem pemerintahan sendiri-sendiri. Kala itu, ada namanya Negeri Malaya, Brunei, Jawa, Borneo, Swarna Dwipa yang kemudian terbagi lagi menjadi suku Aceh, Minang Kabau, Melayu, Dayak, Jawa dan lain sebagainya. Kemudian tibalah masa Revolusi Industri di Barat, yang membuat negara-negara Eropa mulai berkeliling dunia untuk mencari bahan baku dalam pemenuhan kebutuhan industri mereka. Salah satu tujuan mereka adalah negeri-negeri yang ada di kawasan Asia Tenggara. Mulailah ketika itu, Belanda datang ke negeri-negeri yang sekarang adalah wilayah Indonesia. Inggris datang ke negeri-negeri Melayu wilayah Malaysia dan Papua Nugini sekarang. Portugal datang ke Timor Leste. Spanyol datang ke negeri wilayah Philipines sekarang. Inggris dan Perancis juga datang ke wilayah Thailand sekarang, begitupun Kamboja yang dijajah Perancis. Dan masih banyak lagi negara-negara ASEAN yang didatangi oleh Barat waktu itu.

Ketika usai Perang Dunia II, mulailah kemerdekaan negara-negara ini bermunculan. Wilayah negeri-negeri yang dijajah Belanda kemudian bersatu membentuk negara bernama Indonesia. Begitupun dengan negara lain yang terbentuk berdasarkan historical perjuangan masa lalu. Berdasarkan nasib seperjuangan. Pernah bangsa Malaya (sekarang Malaysia) melalui pemimpin nasionalis Malaya bertemu dengan Soekarno dan Hatta di Perak. Encik Ibrahim Yaakob, Burhanudin dan pemuka rakyat Malaya ingin menggabungkan Malaya dengan Indonesia Raya. Namun saat itu, dwi tunggal Soekarno-Hatta tidak bisa memutuskan begitu saja.

Akhirnya rakyat Malaya mengambil keputusan sendiri dengan menggelar kongres selama tiga hari berturut-turut (15, 16, 17 Agustus 1945) di Kuala Lumpur. Hasilnya, keputusan berjuang demi kemerdekaan dan bersatu dengan Indonesia. Keputusan dipelopori oleh Burhanusin, kemudian didukung oleh Onn bin Jafa. Kemudian, Encik Ibrahim Yaakob berangkat ke Singapore untuk menarik Giyungun menjadi tentara kebangsaan. Juga akan dikirim utusan ke Jawa untuk mengatur penggabungan Semenanjung Malaya dengan Republik Indonesia. Namun, rakyat Malaya yang penuh harap itu akhirnya maklum dan terharu berhadapan dengan kenyataan bahwa Republik Indonesia yang terdiri dari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 hanya meliputi wilayah Hindia Timur Belanda saja. (sumber : https://indepedensi.com/2019/04/14/presiden-soekarno-dan-ancaman-referendum-sabah-sarawak/ )

Jadilah Indonesia, negara bekas jajahan Belanda menjadi negara dengan suku bangsa yang banyak. Indonesia menjadi negara yang kaya dengan 17.000 pulau dengan jumlah penduduk terbesar ke-empat dunia. 263 juta populasi, terdiri 300 etnis dan berbicara dalam 700 bahasa etnis dan berbagai agama. Hal ini menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi Indonesia dan kita menyebutnya Bhineka Tunggal Ika.

Tentu saja, salah satu bagian dari keragaman Indonesia ini adalah Kabupaten Lahat. Kabupaten Lahat tersendiri sebenarnya juga adalah gabungan dari berbagai suku yaitu Lekipali (Lematang, Kikim, Pasemah, Lintang). Namun dalam perkembangannya, Pasemah sudah memiliki Kota sendiri meskipun masih ada suku Pasemah yang bergabung di Kabupaten Lahat. Lintang juga telah memilik Kabupaten sendiri. Dan wacanya Kikim akan membentuk Kabupaten sendiri juga.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, perkotaan di Indonesia sendiri memiliki tantangan yang sangat besar terkait dengan tingkat kemiskinan, masalah sosial, kriminalitas, terbatasnya sumber pendanaan untuk pembangunan, tidak terkendalinya tata ruang dan perubahan guna lahan, pengelolaan sumber daya yang tidak maksimal dan aneka permasalahan lainnya.

Pengembangan kota sendiri tidak harus homogen, tapi mengikuti karakter maupun akar budaya lokalnya yang kuat. Basuki mencermati pembangunan ruko yang homogen di beberapa kota seperti Padangyang menghilangkan bangunan khas Bagonjong, Sumatera Utara dengan rumah adat Gorja, atau Yogyakarta dengan Joglonya. Kota-kota harus punya identitas yang khas, jangan homogen dan didominasi ruko. Di sini perlu juga peran dari kalangan akademisi untuk ikut merumuskan dasar pengembangan kotayang inklusif dan ini menjadi dasar bagi kita untuk pengembangan kota. Begitu juga peran masyarakat yang sangat penting. (sumber : https://www.perumnas.co.id/kota-harus-memiliki-ciri-khas/ )

Berdasarkan ini, Kabupaten lahat yang sudah berusia 150 tahun mestinya sudah memiliki ciri khas tersebut. Kabupaten Lahat memiliki akar budaya yang jelas, yaitu budaya Melayu Besemah. Lahat juga memiliki karakter tersendiri dengan daerahnya yang kaya akan Sumber Daya Alam. Yaitu pertambangan batubara dan juga wisata berupa seribu megalith dan ratusan airterjun. Pembangunan lahat, sesuai yang dikatakan Basuki Hadimuljono tidak boleh homogen. Alias standar-standar saja dengan daerah lainnya. Boleh saja kita melengkapi infrastruktur seperti pusat perbelanjaan, hiburan, sarana olahraga, bandara, namun harus ada ciri khas tersendiri bagi Kabupaten Lahat yang membedakan Lahat dengan daerah lainnya. Inilah yang akan menjadi sumber kemajuan Lahat dibanding daerah lain.

Contoh saja Bali, orang datang kesana adalah untuk menikmati ciri khas Bali yaitu pantainya serta budayanya. Kemudian Yogyakarta, orang datang kesana untuk menimmati ciri khas Jogja dengan keindahan alamnya, suasana kotanya dan wisata kulinernya. Kemudian ada Malang, orang datang kesana untuk menikmati wisatanya yang memiliki kebun apel serta Bromo. Dan masih banyak daerah lainnya memiliki hal serupa.

Karakteristik hasil pekerjaan di bidang pemerintahan sebenarnya adalah leboh bersifat service atau jasa, dan tidak menghasilkan produk fisik berupa barang. Artinya, hal yang dapat dilakukan pemerintah dalam memajukan daerahnya adalah dengan jasa. Dalam hal ini adalah jasa koordinasi. Karena pemerintah RI sebenarnya sudah mengatur sistem pembangunan daerah dengan baik. Contohnya saja dalam pembangunan Desa dan Wisata.

Pemerintah RI telah memberikan segala komponen dalam pembangunan Desa. Hal ini bisa juga berdampak dalam hal pembangunan atau pengelolaan potensi 143 airterjun di Kabupaten Lahat misalnya. Dalam dinas PMD, mereka mengenal yang namanya dana desa. Dana Desa ini setau penulis adalah dana yang dikucurkan per tahun untuk pembangunan desa tersebut melalui RAB yang di susun Desa. Dalam pelaksanaannya, pemerintah Desa harus memiliki mentor yang berkualitas minimal sarjana dalam rangka pembangunan Desa. Karena perangkat desa umumnya adalah tamatan SMA, perangkatnya pun juga demikian. Maka harus ada yang seorang yang bisa dibilang konseptor dalam pembangunan desa agar dana desa menjadi efektif dan efisien. Inilah fungsi adanya pendamping Desa yang merupakan para sarjana pilihan, dibawahnya ada juga pendamping lokal desa yang bisa membantu perangkat desa dalam menyusun pembangunan di desa tersebut.

Selanjutnya, bagaimana dengan wisata ? di setiap kecamatan, ada juga namanya TPID (Tim Pelaksana Inovasi Desa). Tugas TPID ini adalah memfasilitasi desa-desa dalam membangun inovasi yang dikembangkan desa. Yang kemudian TPID ini melakukan capturing dan replikasi terhadap apa yang dibutuhkan desa-desa.

Namun, pemerintah memang seharusnya memiliki karakteristik hasil kerja yang bersifat service atau jasa. Yaitu dengan membantu mengkoordinasi seluruh desa ini. Dinas terkait yaitu BPMD harusnya melakukan kolaborasi atau biasa disebut WoG dengan Dinas lain dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Karena umjung tombak kebudayaan dan pariwisata adalah masyarakat Desa. Melestarikan kebudayaan tidak cukup dengan agenda ceremonial setahun sekali, namun harus dengtan program yang sustainable atau berkelanjutan.

Dengan WoG antara Dinas BPMD dan Dinas Kebudayaan dan pariwisata ini, kita bisa mulai menata pembangunan. Juga agar peenggunaan dana desa bisa efektif dan efisien. Misalnya dalam satu tahun ini, seluruh desa diwajibkan mendata potensi wisata di desanya, kemudian hal itu harus di presentasikan perangkat desa di tingkat kecamatan masing-masing. Dari tingkat kecamatan ini, kemudian Kecamatan presentasi ke tingkat Kabupaten. Maka, fokus pembangunan satu tahun itu di lahat adalah pembangunan pariwisata di Desa melalui dana desa masing-masing. Potensi wisata di tiap Desa juga pasti tidak akan homogen. Karena memiliki potensi masing-masing. Ada yang punya airterjun, ada yang punya goa, ada yang punya sumber air panas, ada yang punya potensi perkebunan buah stroberi, ada potensi danau, dan lain sebagainya. Tentu saja dalam proses pembangunannya nanti harus menggunakan nilai Inovatif dan berorientasi mutu agar membuat banyak orang luar daerah tertarik datang ke Lahat. Begitupun seterusnya, di tahun-tahun berikutnya, bisa juga diteruskan dalam pembangunan hal lainnya di desa seperti BUMDES Mart, BUMDES, sarana prasarana dan lain sebagainya sesuai kebutuhan masyarakat.

Salam hormat saya untuk pak Bupati Cik Ujang. Saya yanuar, kita pernah bertemu di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang beberapa waktu lalu ketika bapak mau berangkat ke Jakarta dalam rangka mengikuti Lemhanas, sedangkan saya waktu itu akan terbang ke Bangka Belitung. Sekian.

Editor : SR

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

18 − seventeen =

Berita Populer