TALANG KUSAYANG TALANGKU MALANG

Karya: Kidung Pramudita

Sudah 1 jam berlalu. Mataku mulai bosan menatapi pelampung joran yang sedari tadi hanya terapung tenang di tengah lubuk. Ini merupakan lubuk kelima yang kusambangi di sepanjang sungai kecil ini. Hasil pancinganku sungguh di luar dugaan. Hanya seekor Seluang sebesar ibu jari yang mengait di mata pancing. Selebihnya, setiap lubuk seperti tak ada tanda-tanda kehidupan ikan yang menghuninya.

Di hulu sungai—tak jauh dari tempatku duduk, Boni menatapku dengan senyum setengah dipaksakan, prihatin. “Sudah kubilang, Gung, ikannya sudah habis. Sungai Gerohong yang sekarang, berbeda dengan Sungai Gerohong sepuluh tahun lalu.”

“Salahmu juga tak dijaga, Bon,” tukasku, tanpa mempedulikan Boni yang melongo kaget.

Kenapa aku yang disalahkan? Mungkin begitulah kira-kira yang ada di benak Boni.

“Tak ada anak-anak yang mandi, Bon?”

“Mandi? Mandi sungai?” Boni balik bertanya dengan sedikit terkekeh. ”Pipa-pipa air bersih sudah terpasang di tiap-tiap rumah. Untuk apa lagi anak-anak mandi di sungai yang keruh ini. Pancuran pun sudah tak ada lagi di talang ini.”

Kuletakkan biasan  bambu* yang sedari tadi erat di jemariku. Kakiku melangkah gontai mendekati pohon kemiri yang tak jauh dari tempat memancing tadi. Setelah menyibak rerumputan yang tumbuh di bawah pohon kemiri tersebut, kusenderkan tubuh ke batangnya. Angin yang berembus sepoi-sepoi, sedikit memanjakan pikiranku yang mulai buncah.

Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit ingatanku melayang pada kenangan 10 tahun silam. Dimana Sungai Gerohong menjadi tempat favorit untuk memancing bersama teman-teman sebayaku—termasuk Boni. Hanya dengan berumpankan cacing tanah, waktu 1 jam yang kugunakan tadi, sudah dapat mengumpulkan puluhan ikan dengan berbagai jenis. Tetapi kini semua telah jauh berubah. Ikan-ikan seakan hilang tak tahu rimbanya.

Terkenang pula masa belia dahulu saat kerap menemani Emak yang hendak mencuci pakaian ke sungai.Kaki-kaki mungilku berlarian menyusuri jalan setapak yang membelah padang ilalang. Emak pun ikut mempercepat langkahnya sembari berteriak memperingatkanku agar berhati-hati.

Setibanya di sungai, aku langsung menceburkan diri, berenang riang, berkecipak di antarariak yang mengalir tenang. Jika sudah lelah, aku merapat ke batu besar tempat Emak mencuci. Maka beliau akan menceritakan sebuah dongeng kepadaku, di sela kegiatannya mencuci. Hmm… aku rindu masa itu!

Masih segar dalam ingatanku saat mobil travel yang membawaku semalam, mulai menelusuri jalan menuju talang. Jalanan yang dahulu masih berbentuk tanah, kini telah berubah menjadi aspal hitam dan lebar selayaknya jalanan kota.Meskipun debu-debu yang beterbangan bagaikan asap tebal melingkupi sepanjang jalan, namun barisan tiang listrik yang berdiri tegapdi sepanjang jalan juga membuatku tercengang. Alangkah cepatnya perubahan ini. Betapa baiknya pemerintah yang begitu peduli pada talang ini.Kenapa tidak dari dulu, ketika aku masih di sini?

Tak hanya sampai di situ. Setibanya di talang, bukan hanya pelukan hangat dari Boni yang menghadirkan keceriaan di wajahku. Tetapi perubahan drastis yang ditampilkan talang membuatku semakin terpana. Bangunan Sekolah Dasar berdiri dengan kokoh dan megah. Dari kejauhan tampak lantai teras sekolahan yang menggunakan keramik—berkilau di bawah benderangnya cahaya dari lampu-lampu yang berbaris rapi. Sungguh kontras jika dibandingkan zamanku dahulu, saat sekolah tersebut masih berdinding papan dan beralas tanah.

Rumah-rumah penduduk juga tampak lebih mewah. Tak ada lagi dinding pelupuh ataupun atap jerami. Semuanya berubah menjadi rumah beton dengan atap multiroof. Sebagian malah sudah didesain dengan interior mahal. Pemandangan atas perubahan drastis ini tak ayal menggelayuti benakku. Bagaimana ini bisa terjadi? Jangan-jangan warga menemukan harta karun? Entahlah!

Menurut cerita Boni—beberapa tahun lalu setelah kepindahanku ke kota—talang kami mulai mengalami banyak kemajuan. Beberapa pembangunan di sektor infrastruktur telah menghiasinya. Semua berawal ketika sebuah mobil tambang dengan merk Mitsubishi Strada L200—berisikan 5 orang asing, berseragam khas pertambangan, melakukan survey dan pengecekan ke beberapa lahan pertanian warga.

Tak lama setelah itu, Kepala Talang mendapat sepucuk surat dari pemerintah kecamatan yang berisi himbauan, agar kiranya Kepala Talang segera mengumpulkan warga di hari dan tanggal yang telah ditentukan. Sebab, menurut isi surat yang dibacakan di hadapan para warga tersebut, unsur-unsur pemerintah dari Kabupaten dan Kecamatan akan tiba untuk bermusyawarah, membahas Batu Bara yang terkandung di area Talang. Warga menyambut isi surat tersebut dengan gembira layaknya menemukan harta karun.

Seminggu kemudian, sesuai dengan yang telah diagendakan, beberapa orang aparatur pemerintah hadir bersama beberapa perwakilan dari perusahaan. Semua warga yang hadir terlihat begitu antusias mengikuti jalannya musyawarah. Maklum, kunjungan orang-orang penting ke talang merupakan hal yang langka terjadi. Begitupun ketika acara selesai, terlihat wajah sumringah dari mereka.

Beberapa hari kemudian warga talang sibuk ke ladang masing-masing. Tetapi aktivitas yang dilakukan tak seperti biasanya. Mereka menyibukkan diri di lahan, bukan dengan cangkul ataupun arit. Di tangan mereka tergenggam sebuah meteran panjang, buku dan pena. Mereka hilir-mudik di area perbatasan lahan masing-masing. Tak kalah sibuk para aparat pemerintahan yang datang silih berganti, membawakan berkas-berkas. Hampir 4 bulan lamanya kesibukan ini digeluti warga, hingga mendapatkan sebuah buku yang mereka perjuangkan. Buku rekening dengan angka tabungan mencapai  ratusan juta rupiah. Dan semenjak itu pula, para warga tak lagi memiliki hak atas ladang mereka.

Sejak itu, talang menjadi ramai. Banyak orang-orang luar daerah berdatangan, dengan tujuan berdagang atau pun menawarkan jasa. Dalam sekejap para investor telah mengubah talang menjadi selayaknya kota kecil.

“Gung… Agung!” Lamunanku seketika buyar saat tangan Boni menggoyang-goyang bahuku. “Hm… ngelamun. Yuk pulang, udah sore!”

Setelah membereskan peralatan memancing, aku dan Boni langsung melangkah pulang.Langkahku gontai menyusuri setapak yang di sekelilinganya ditumbuhi pepohonan kering yang meranggaskan daunnya. Debu-debu tebal melingkupi pepohonan tersebut. Ada kepedihan menyeruak ke dalam kalbuku. Hilang… keindahan itu telah hilang.

“Oh iya, Bon… adakah para pemuda kita yang bekerja di perusahaan tambang?” tanyaku iseng di sela-sela langkah sedikit tergesa.

“Hm… sepertinya putra daerah kurang diperhatikan. Ada satu, Si Robi, itu pun karena dia anaknya Kepala Desa kita. Biasalah, tradisi ‘orang dalam’.”

“Yah… tradisi.Tradisibasi! Hahaha….” Kami tertawa berbarengan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 menit, aku dan Boni memasuki area perumahan talang. Langit yang mulai berwarna gelap, menunjukkan sepertinya sebentar lagi akan masuk waktu Maghrib.

“Ke Masjid, Bon!” ujarku sembari mengubah arah langkah kaki menuju Masjid. Aku berjalan di depan. Tentu saja aku masih hafal jalan menuju Rumah Allah ini, meski banyak perubahan di sekelilingnya.

Setibanya di depan Masjid aku terkesiap dan berdecak kagum. Indah sekali. Sangat berbeda dengan 10 tahun lalu ketika masih berupa Langgar. Akan tetapi, rasa kagumku seketika berubah saat berada di dalam Masjid. Rasa kagum yang semula bersemi, perlahan berguguran bagai gugurnya daun-daun sakura di musim gugur.

Kedua bola mataku menatap prihatin ke tiap sudut ruangan Masjid. Sekilas pandanganku bersirobok dengan Boni yang malu-malu, kemudian tertunduk. Begitu lengang. Semuanya hilang. Tak ada lagi suara anak-anak yang riuh melafal ayat-ayat suci Al-qur’an. Tak ada lagi barisan rapat shaft-shaft yang ramai dari para warga dengan gembira membawa anak-anaknya turut serta.

Ke mana mereka? Sibuk dengan televisi baru? Enggan beranjak dari tempat tidur yang empuk? Atau tengah berkutat dengan handphone baru dan berselancar dalam kecanggihan internet? Apapun itu, yang pasti sungguh miris menyaksikan pemandangan ini. Jika kesejahteraan sudah di dapat, kemajuan zaman sudah dirasakan, kenapa nilai-nilai agama harus diabaikan. Lantas apa gunanya semua ini? Hanya kesenangan semata? Tak cukupkah jika hanya keasrian talang saja yang hilang? Mengapa keluhuran budaya dan beragama turut raib di sini?

“Allahu akbar… Allahu akbar….” Kurasakan air mata bergulir pelan di antara untaian-untaian  adzan yang kusenandungkan petang ini.

END

Lahat,    Juli  2016

 BIODATA PENULIS

Kidung Pramudita adalah pemuda kelahiran Kota Lahat yang menggemari dunia Literasi.

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

twenty − eleven =