Wangi” Kopi di Kaki Gunung Dempo

“Wangi” Kopi di Kaki Gunung Dempo

Salah seorang petani di Rimba Candi Kecamatan Dempo Tengah Kota Pagaralam, Sumsel, menunjukan tanaman kopi jenis "Arabica" yang dikembangkan di daerah tersebut

Salah seorang petani di Rimba Candi Kecamatan Dempo Tengah Kota Pagaralam, Sumsel, menunjukan tanaman kopi jenis “Arabica” yang dikembangkan di daerah tersebut

\r\nHB,PAGARALAM – Meskipun kopi jenis Robusta dan Arabica menjadi komidity andalan bagi masyarakat Semendo Kabupaten Muara Enim, dan Kabupaten Lahat, tapi banyak orang belum tahu jika kopi yang tumbuh dan dikembangkan di dataran tinggi kaki Gunung Dempo memiliki aroma khas.\r\nKemudian citra rasa yang sangat jauh bebeda bila dibandingkan dengan kopi yang ditanam di daerah lain baik di Semendo, dan sekitar Kota Pagaralam. Belum lagi didukung dengan kondisi tanah dan kadungan yang terdapat didalamnya yang hanya dimiliki Pagaralam membuat kopi bercita rasa khas atau kwalitasnya cukup diakui dunia.\r\nKopi Pagaralam dahulunya yang lebih dikenal sampai ke Negeri Kincir Angin, Belanda kopi Besemah, sudah diminati warga Eropa khususnya Ratu Yuliana dari Belanda. Bahkan akibat citra rasa kopi Besemah ini begitu enak, pulen dan sangat membekas bila dinikmati dalam kondisi panas, menjadikan Ratu Yuliana merasa kurang sempurna bila hari-harinya belum memikmati kopi Besemah atau sebelum beraktivitas. Bahkan cerita sang ratu, jika sering minjm kopi Besemah dapat awet muda dan tenaga juga menjadi lebih kuat.\r\nTapi tidak banyak orang tau jika Kopi Pagaralam itu cita rasanya khas, dan sangat terasa nikmatnya bila meminumnya dibarengi dengan makanan khas Pagaralam.\r\nMemang butuh penelitian dan tes secara ilmiah untuk buktikan jika kopi Pagaralam memang sudah diakui dunia sejak ratusan tahun lalu dari segi cita rasa dan kwalitasnya.\r\nNamun sejarah sudah membuktikan jika daerah Pagaralam sudah menjadi areal pengembangan kopi oleh pemerintah Belanda dan pemerintah Indonesia. Hanya saja kelanjutan pengembangannya terhenti tidak jelas penyebabnya, sehingga hanya masyarakat setempat yang tetap menjadikan kopi sebagai tempat menggantungkan hidup dan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.\r\nKemudian potensi luas lahan kopi di Kota Pagaralam mencapai 8.000 hektare dengan lahan produktif mencapai 3.500 hektare tersebar di lima kecamatan dan 35 kelurahan.\r\n” Aroma wangi Kopi Pagaralam jenis Robusta wanginya suda tercium, bahkan sebelum kopinya diseduh hal ini diungkapkan Hendri Tukijoh (35) wisatawan yang berasal dari Kota Malang.\r\nDikatakan Hendri dengan keindaha alam yang sangat natural di Kota Pagaralam sangat potensial dari sektor Pariwisata dan Hasil Bumi “baru pertama kali datang ke Kota Pagaralam saya sangat takjub dengan keindahan alam dan Aroma Kopinya,” tuturnya kepada wartawan Harianbesemah.Com\r\nSementara itu Dewi M Darman salah satu pengusaha kopi  mengatakan bahwa kopi Pagaralam adalah salah satu kopi favorit Ratu Yuliana pada jaman Belanda dulu. “Ratu Yuliana memang seorang pencinta kopi, dan tak pernah melewatkan satu hari pun tanpa kopi,” ucapnya\r\nIa mengatakan kopi robusta sangat cocok ditanam di daerah tropis yang basah, seperti Kota Pagaralam dimana suhu dan udaranya yang membuat aroma kopi pagaralam berbedah dengan kopi di daerah lain\r\n”Pertumbuhan kopi Kopi Robusta yang berasal dari Pagaralam ini sejak dulu dikenal istimewa karena ciri khas wanginya,” jelas Dewi\r\nDengan budidaya intensif akan mulai berbuah pada umur 2,5 tahun. Agar berbuah dengan baik, tanaman ini membutuhkan waktu kering 3-4 bulan dalam setahun dengan beberapa kali turun hujan.\r\nTanaman kopi robusta tidak jauh berbeda dengan arabika juga menghendaki tanah yang gembur dan kaya bahan organik. Tingkat keasaman tanah (pH) yang ideal untuk tanaman ini 5,5-6,5. Kopi robusta dianjurkan dibudidayakan dibawah naungan pohon lain. (mukiha)\r\n

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*

17 + 1 =