oleh

Refleksi Hari sumpah Pemuda Ke -97 : “Jadi Pemuda, Mari Berperan dan Jangan Baperan”

-artikel-631 Dilihat

Penulis : Azwar Aripin/ Kak IPIN
( Tokoh Muda & Pengamat Sosial OKU)

Peringatan Sumpah Pemuda ke-97 tahun ini membawa tema yang sangat kuat: “Jadi Pemuda, Mari Berperan dan Jangan Baperan.” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan seruan moral agar generasi muda bangkit dan mengambil peran nyata dalam pembangunan bangsa dan daerah. Di tengah derasnya arus modernisasi, globalisasi, dan digitalisasi, pemuda OKU dihadapkan pada tantangan besar: krisis moral dan degradasi akhlak.

Fenomena ini nyata terlihat di sekitar kita. Maraknya pergaulan bebas, penyalahgunaan media sosial, kurangnya sopan santun terhadap orang tua dan guru, rendahnya kepedulian sosial, serta meningkatnya kenakalan remaja menjadi cermin bahwa nilai-nilai luhur mulai tergerus. Dalam kondisi ini, peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar upacara tahunan, tetapi alarm bagi semua pihak — terutama pemuda — untuk melakukan refleksi dan perubahan.
Berperan, bukan sekadar bereaksi.

Pemuda OKU harus menyadari bahwa masa depan daerah dan bangsa berada di tangan mereka. Menjadi pemuda pergaulan, menjadi teladan dalam keluarga, sekolah, kampus, dan lingkungan masyarakat. Nilai kepemudaan sejati bukan hanya soal usia muda, tapi keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan memberi manfaat bagi sesama.

Jangan baperan, tapi kuatkan mental dan akhlak. Tantangan zaman modern sering membuat pemuda mudah tersinggung, mudah patah semangat, dan kehilangan arah. Padahal, tantangan ini seharusnya ditempa menjadi kekuatan. Pemuda yang tangguh adalah mereka yang mampu mengontrol emosi, berpikir jernih, dan teguh memegang prinsip moral dan agama. Ini menjadi penting di tengah krisis akhlak yang semakin meresahkan.

Tentu, membangun karakter pemuda bukan hanya tugas individu, tetapi tanggung jawab kolektif. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, keluarga, tokoh agama, dan organisasi kepemudaan harus berjalan beriringan. Sekolah dan kampus perlu memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital. Orang tua harus lebih hadir dalam pembentukan kepribadian anak. Dan pemuda sendiri harus sadar bahwa menjadi generasi penerus bukan sekadar status, tapi amanah sejarah.

Sumpah Pemuda 1928 mengajarkan kita arti persatuan, komitmen, dan keberanian. Pemuda masa kini harus menambahkan satu hal lagi: integritas moral. Tanpa moral dan akhlak yang kuat, peran pemuda akan rapuh. Tetapi dengan jiwa yang bersih dan semangat yang kokoh, pemuda OKU dapat menjadi motor perubahan dan benteng peradaban.

Mari kita jadikan momentum Sumpah Pemuda ke-97 ini sebagai titik balik: pemuda OKU tidak hanya bangga dengan masa mudanya, tetapi juga berani menjadi teladan, agen perubahan, dan penjaga moral bangsa. Selamat Hari Sumpah pemuda ke-97 ; Salam satu Nusa, Satu Bangsa & Satu Bahasa. Mari terus Bersama Sayangi OKU karena OKU Rumah Besar Kita Bersama.

banner 728x700

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *