oleh

Pilkada Serentak 2020, Pilkada 4L

-Opini-1955 Dilihat

Oleh : Muhammad Darwin 
(Sekretaris Yayasan BINAIS OKU)

Masyarakat Indonesia baru saja melaksanakan pencoblosan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada tanggal 9 Desember 2020. Ada 270 daerah yang berpartisipasi, terdiri dari 9 Propinsi, 37 Kota, dan 224 Kabupaten. Kesibukan panggung politik sungguh ramai dan panas. Namun, kalau kita perhatikan cerita lama sepertinya terulang kembali. Tokoh – tokoh yang muncul pada pesta demokrasi yang baru saja di helat masih didominasi oleh wajah-wajah lama. Apakah Fenomena 4L (Lo Lagi Lo Lagi) sebagai tanda bahwa negeri ini dalam kondisi “Krisis Pemimpin?”

Bisa dibilang pilkada serentak di Indonesia adalah election (pemilihan umum) terbesar dan tercepat di dunia. Terbesar dari segi jumlah kontestan, dan tercepat dari segi waktu pelaksanaan (sehari) yakni 9 Desember 2020. Sangat menarik memang. Diberbagai daerah banyak nama-nama yang bermunculan dan bertarung pada pilkada serentak. Namun sungguh ironis, ternyata nama-nama tersebut masih di dominasi “elite-elite lama.” Bukan hanya incumbent yang kembali maju mencalonkan diri, para kompetitornya pun tak jauh dari 4L (Lo Lagi Lo Lagi).

Berbicara tentang suksesi kepemimpinan, tidak hanya ditentukan oleh faktor usia, wajah lama atau wajah baru. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Ada faktor kredibilitas, faktor kapabilitas, dan faktor akseptabilitas tokoh yang mesti teruji ditengah masyarakat. Apakah tokoh senior lebih dapat dipercaya, lebih mampu, dan lebih dapat diterima masyarakat? Jawabannya mungkin belum tentu. Bagaimana pula dengan tokoh muda? Jawabannya juga mungkin tidak sesederhana ketika kita mencontreng atau mencoblos. Lalu sampai kapan kita selalu terjebak dalam dilema memilih pemimpin, sampai kapan kita keluar dari kesulitan dalam memilih pemimpin? Siapa pula yang seharusnya bertanggung jawab? Berikut beberapa analisa penulis yang bisa jadi subyektif :

Pertama, Tingkat kepercayaan tokoh senior sangat rendah kepada juniornya. Sejarah membuktikan kelalaian Bung Karno, dia tidak menunjuk kader penggantinya, sehingga perubahan tidak berjalan. Bung Karno mengulangi kesalahan besar Patih Gajah Mada yang lupa atau tidak menyiapkan kader sebagai penggantinya, sehingga Majapahit tidak bertahan lama. Maka yang terjadi sekarang tidak jauh berbeda. Kurun waktu lima tahun dirasa belum cukup untuk berkuasa. Jangankan menyiapkan tokoh pengganti, tokoh senior disibukkan dengan program yang konon belum selesai, disibukkan dengan pencitraan diri yang terkadang “dipaksakan.” Agak lucu memang, disalah satu daerah, pasangan calon usia senja terkesan memaksakan jargon dengan tagline “Yang Muda Yang Memilih.”

Muhammad Darwin, Sekretaris Yayasan Binais OKU

Kedua, Tokoh muda kurang percaya diri. Dengan berbagai alasan tokoh muda enggan maju atau masih malu-malu menampakkan “taringnya.” Ada yang merasa belum populer, ada yang tidak pe-de maju sebagai calon independent, ada pula yang merasa tidak cukup dukungan finansial, dan alasan lainnya. Fenomena calon tunggal dibeberapa daerah bisa jadi bentuk kurang pe–de nya tokoh muda, disamping bukti “saktinya” petahana. Padahal harapan masyarakat sangat besar kepada tokoh – tokoh muda itu. . Usia muda diyakini memiliki idealisme, integritas dan visioner tanpa mengabaikan pengalaman tentunya. Setidaknya usia muda adalah usia yang produktif. Dengan memiliki jejak rekam yang relative masih “bersih”, sangat memungkinkan perkembangan dan kemajuan daerahnya akan lebih cepat diwujudkan.

Ketiga, Tersumbatnya regenerasi di Partai Politik. Parpol maupun elemen masyarakat yang memiliki otoritas dianggap mandul/mati suri menyusun program penyiapan kader terbaik untuk dijadikan pemimpin dimasa depan. Keberadaan politisi yang dengan mudahnya “lompat” dari parpol yang satu ke parpol yang lain mengindikasikan buruknya proses kaderisasi di berbagai partai politik. Kompromi politik (kompol) calon dengan parpol seakan sudah menjadi rahasia umum meskipun dibungkus dengan kalimat “kontrak politik”, nota kesepahaman atau nama lainnya yang lebih halus. Sekali lagi, ini “PR” dari parpol untuk terus membenahi proses kaderisasi internal partainya. Pemimpin yang hebat tentunya tidak muncul dengan tiba-tiba, tapi “dilahirkan” dari proses panjang yang menuntut komitmen dan pengorbanan serta kesabaran. Bukan hanya “dicari “ dalam siklus lima tahunan.

Keempat, Kondisi sebagian besar masyarakat yang masih “sakit” atau tidak siap. Tidak sedikit dari masyarakat yang apatis dengan proses suksesi kepemimpinan di daerahnya. Atau kalaupun berpartisipasi dipesta demokrasi hanya sekedar mencoblos/mencontreng sesuai “pesanan.” Maka sehebat apapun seorang pemimpin, mustahil akan berhasil bila masyarakat masih pragmatis dalam menentukan pilihan. Menurut Malik Bennabi dalam “Milad Al-Mujtama”, Kejayaan akan terwujud jika masyarakat telah mampu melebur orientasi-orientasi materialistik dalam bingkai idealisme luhur, sehingga terbentuklah lingkungan sosial yang kondusif untuk mengatasi berbagai permasalahannya.

Lima tahun kedepan, bukanlah waktu yang lama. Seluruh elemen masyarakat harus segera”dibangunkan” untuk “melek politik.” Jangan hanya karena uang ratusan ribu, masa depan negeri “tergadaikan.” Jangan hanya terpesona dengan tampilan lugu, kenikmatan semu/sesaat bila sengsara kemudian. Saatnya masyarakat menjadi pemilih yang cermat dan smart. Jangan pernah lagi kita terus dipaksa untuk memunculkan pemimpin secara “darurat”, tanpa persiapan sebelumnya. Jangan pernah lagi kita dipaksa untuk memilih pemimpin yang “mudharatnya lebih kecil.” Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya kewajiban partai politik, tapi amanah yang harus diemban oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan adanya sinergi antar parpol dan seluruh komponen masyarakat, munculnya sosok pemimpin yang “maslahatnya lebih besar” bagi masyarakat bukanlah suatu hal yang mustahil. Semoga!!!

banner 728x700

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *