oleh

Musibah

-Lahat-515 Dilihat

LAHAT, Beritakite.com – Kematian ulama’ adalah musibah. Tonggak-tonggak ilmu tercerabut dari muka bumi. Berkurangnya tepian-tepian bumi ungkap Ibnu Abbas dalam tafsirnya. Kita bisa memahami, kebodohan akan segera mulai menyebar. Yang tak paham agama akan memberi fatwa serampangan tersebab tak ada lagi pasak-pasak penjaga fatwa pewaris ambiya’

 

Kematian ulama’ adalah musibah

Tertutupnya pintu-pintu fiqih. Ijtima’ sebagai kecukupan dalam penetapan hukum menjadi hilang. Ijtihad yang dinanti ummat dari mereka yang ahli tak lagi dapat dinanti..

 

Kematian ulama’ adalah musibah

Salah satu rantai keteladanan dalam kehidupan terputus. Kematian ulama’ bukan perpisahan dengen jasad, tetapi perpisahan dengen keteladanan amal shalih, lisan yang benar dan perilaku yang jujur. Yang berhari kita contoh dan teladani. Lisan yang kita dengar dan taati setiap ilmu yang diberi. Sebagai pepatah arab mengatakan “Jika kamu telah merasakan manisnya pertemuan, maka kamu akan merasakan pahitnya perpisahan”.

Kematian ulama’ itu musibah

Wafatnya ulama’ adalah penantian panjang untuk generasi pengganti. Penguasa yang sehat dan kuat beribu antri yang siap mengganti. Ulama bahkan sesabda nabi “setiap kurun dalam 100 tahun diantara ummatku ada pembaharu”. Begitu panjang generasi pengganti..

Kematian ulama’ itu musibah

Kematian satu kabilah lebih ringan dari pada kematian satu ‘alim Ulama’. Kyai Mukti menjelaskan bahwa maksud hadits ini bukanlah meremehkan nyawa manusia, tetapi lebih merujuk kepada kemuliaan ulama’. Tersebab, kehilangan ilmu sangat berbahaya bagi satu kabilah atau bahkan bagi suatu bangsa. Kematian akan lebih berharga dari pada menghadapi kesesatan dan kemungkaran yang mendurjana.. Wallahu ‘Alam Bi shawwab

Kematian ulama adalah musibah

Kematian ulama’ seperti robeknya satu pakaian utuh sehingga nampaklah kekurangan nya. Jikalau di tambal tentulah tak sebaik seperti sebelumnya ungkap Hasan Al Basri Rahimahullah “Kematian seorang ‘Alim laksana lubang didalam islam. Apapun tidak dapat menutupinya sepanjang pertukaran malam dan siang.”

Kematian seorang ulama’ adalah musibah

Bentuk kemunafikan adalah tak merasa sedih dengan kematian seorang ‘Alim. Bahkan, Syetan pun bersedih ketika menghadapi kematian seorang ulama’. Sebagai mana Imam Ahmad ketika sakaratul maut berujar “Menjauh lah,, .e jauhlah.” Sesungguhnya syetan berada didepan Imam Ahmad dengen sedih dan berputus asa tersebab tak mampu menggelincirkannya. Laik kah kita tak bersedih dengen kematian ulama’ ?! Yang menuntun kepada kebenaran dan menjauhkan kepada kesesatan?!. Laik kah kita tak bersedih, ketika ilmu dan keteladanan tak lagi dapat direngkuh menghabisi sisa zaman..

?!

Tim redaksi Berita Kite

banner 728x700

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *