Oleh : Yuhdi Hardiyanto, S. Pd (Penulis adalah Ketua DPD PKS OKU)
Isra Mi‘raj bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan pesan abadi yang relevan menjawab berbagai persoalan umat dan bangsa hari ini. Di tengah arus perubahan global, krisis moral, tekanan ekonomi, konflik kemanusiaan, serta melemahnya kepercayaan publik terhadap nilai-nilai keadilan, Isra Mi‘raj hadir sebagai pengingat bahwa kekuatan iman dan keteguhan prinsip adalah kunci utama untuk bangkit.
Peristiwa Isra Mi‘raj terjadi saat Rasulullah ﷺ menghadapi tekanan berat, penolakan, dan keterbatasan. Kondisi ini sejatinya tidak jauh berbeda dengan realitas hari ini, ketika masyarakat dihadapkan pada sulitnya ekonomi, meningkatnya kesenjangan sosial, maraknya korupsi, serta melemahnya solidaritas sosial. Dari Isra Mi‘raj, kita belajar bahwa perubahan besar justru lahir dari kesabaran, kejujuran, dan keberanian untuk tetap berada di jalan kebenaran.
Penekanan utama Isra Mi‘raj adalah shalat. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, shalat seringkali terpinggirkan. Padahal shalat adalah benteng moral. Jika shalat ditegakkan dengan benar, ia akan mencegah kemungkaran, melahirkan integritas, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Krisis etika yang kita saksikan hari ini sejatinya berakar dari renggangnya hubungan manusia dengan Allah SWT.
Isra Mi‘raj juga menegaskan kepedulian terhadap isu kemanusiaan dan keadilan global. Masjidil Aqsha sebagai simbol perjalanan Isra mengingatkan kita pada penderitaan saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia, khususnya di wilayah konflik palestina. Umat Islam tidak boleh apatis. Spirit Isra Mi‘raj harus mendorong keberpihakan pada nilai kemanusiaan, pembelaan terhadap yang tertindas, dan komitmen pada perdamaian yang berkeadilan.
Di tingkat lokal dan nasional, Isra Mi‘raj mengajarkan pentingnya kepemimpinan yang berakhlak. Krisis kepercayaan publik hanya bisa dipulihkan dengan pemimpin yang jujur, amanah, dan melayani. Shalat yang benar akan melahirkan keberanian untuk melawan ketidakadilan, memperjuangkan kebaikan dan kesejahteraan rakyat dengan tulus.
Peringatan Isra Mi‘raj hendaknya menjadi momentum muhasabah kolektif. Bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi titik tolak perubahan: dari pribadi yang lalai menjadi peduli, dari masyarakat yang terpecah menjadi bersatu, dari kepemimpinan yang transaksional menuju kepemimpinan yang berorientasi pelayanan.
Semoga spirit Isra Mi‘raj menguatkan langkah kita dalam menjaga iman, menegakkan shalat, serta terus berikhtiar menyayangi Oku dengan menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan harapan bagi umat dan bangsa.
















Komentar