Para tersangka saat akan dibawa ke Rutan Baturaja

Kejari OKU Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Korupsi Pengadaan Bibit Unggul Menggunakan Dana Desa

OKU – Kejaksaan Negeri Ogan Komering Ulu (Kejari OKU) menetapkan 5 (lima) tersangka dugaan Tindak Pidana Korupsi dalam Kegiatan Pengadaan Bibit Buah Unggul Bersertifikat / Berlabel yang Bersumber dari Dana Desa dan / atau Alokasi Dana Desa Tahun Anggaran 2019, Selasa (15/11/2022).

Kepala Kejaksaan Negeri OKU Asnath Anytha Idatua Hutagalung, SH., MH., didampingi Kepala Seksi Pidana Khusus Johan Ciptadi, SH., MH., dan Kepala Seksi Intelijen Variska Ardina Kodriansyah, SH., MH., saat menggelar konferensi pers menjelaskan bahwa penetapan kelima orang tersangka tersebut setelah tim penyidik pada Seksi Tindak Pidana Khusus melakukan pemeriksaan saksi dan ekspose terhadap perkara itu.

“Tim Penyidik dari Seksi Tindak Pidana Khusus telah menemukan bukti permulaan yang cukup yaitu 2 (dua) alat bukti pada dugaan tindak pidana koruspi tersebut., adapun kelima tersangka tersebut adalah Ro selaku  Direktur CV. Mitra Selayu (perusahaan yang melakukan pengadaan bibit buah), MAB, RI, HS dan AH  yang masing-masing selaku pelaksana penawaran dan penagihan bibit buah CV. Mitra Selayu,” urai Kajari OKU.

Dari kelima tersangka tersebut, empat orang telah dilakukan penahanan, yaitu MAB, RI, HS dan AH, sedangkan tersangka Ro masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

“Tersangka Ro, kami sudah melakukan pemanggilan secara patut, namun tersangka tidak hadir, selanjutnya kami akan berkoordinasi dengan AMC di Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan,” ujar Kajari.

Menurut Kajari OKU, kegiatan pengadaan bibit buah unggul bersertifikat / berlabel yang bersumber dari Dana Desa dan / atau Alokasi Dana Desa tahun anggaran 2019 tersebut terjadi di 49 desa yang ada di Kabupaten OKU.

“Total kerugian keuangan negara dalam kasus ini berdasarkan perhitungan kerugian keuangan Negara yang dilakukan Inspektorat Daerah Provinsi Sumatera Selatan adalah sebesar 3.688.674.401,00 (Tiga milyar enam ratus delapan puluh delapan juta enam ratus tujuh puluh empat ribu empat ratus satu rupiah),” terang Kajari.

Dibeberakan pula oleh Kajari OKU bahwa modus yang digunakan oleh para tersangka yaitu para tersangka secara bersama-sama melakukan tindak pidana dengan mengedarkan bibit tanaman buah tanpa sertifikat dan tidak berlabel, para tersangka setelah membeli bibit tidak bersertifikat / berlabel, kemudian tersangka membuat label sendiri dan ditempelkan di bibit tersebut, sehingga bibit tersebut seolah-olah bibit bersertifikat dan berlabel.

Hal ini bertentangan dengan Pasal 30 UU No.22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan yang berbununyi bahwasanya setiap orang dilarang mengedarkan benih unggul yang tidak sesuai dengan standar mutu, tidak bersertifikat dan/atau tidak berlabel.

“Dimana disyaratkan di dalam Pasal 1 angka 11 bahwa sertifikasi adalah serangkaian pemeriksaan dan/atau pengujian dalam rangka penerbitan sertifikat serta menurut pasal 30 UU ini benih unggul wajib memenuhi standar mutu, disertifikasi dan diberi label,” tambahnya. watch black panther wakanda forever full movie

Dalam kasus ini  menurut Kajari OKU para tersangka disangkakan melanggar Subsidaritas Primair Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Undang-undang RI No: 31 tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-undang No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Subsidair Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-undang RI No. 31 tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-undang No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.