Safira Adila / dok. pribadi

Bagaimana Umat Islam Memahami Makna Adab Bertamu Serta Menyikapinya Dalam Landasan Hadits Dan Perkataan Ulama

(Analisis Penerjemahan Arab – Indo)

Oleh : Safira Adila
(Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Seperti yang kita ketahui saat ini perkembangan globalisasi sangat bergerak cepat, sehingga baik teknologi maupun informasi yang masuk terkadang sulit dikendalikan apakah hal tersebut bijak atau tidak. Dengan begitu tentunya berpengaruh terhadap kebahasaan yang di pakai terutama dalam kegiatan seharihari, aspek kebahasaan ini nantinya akan menjadi proses pemaknaan bagi semua orang dalam berkomunikasi, maka terbentuklah Analisis ini dalam suatu wujud yang berkaitan dengan landasan Al-Qur’an,Hadits, dan perkataan ulama mengenai suatu adab bertamu. kutipan rujukan referensi ayat ini diambil dari beberapa artikel online untuk suatu analisa terhadap terjamahan Arab ke bahasa Indonesia di negara kita. Analisis ini terlahir karena dibutuhkan nya dalam pengembangan kualitas penerjemahan secara Arab – Indonesia yang bagus dan menjadi tolak ukur kematangan dalam penerjemahan ini. Saya menyadari pada analisis ini masih memiliki banyak kekurangan, dan jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saya mengharap kritik dan saran yang membangun agar saya dapat memperbaikinya lebih baik lagi. Semoga analisis ini dapat membantu, dan saya sangat berharap atas kritik dan saran masukan terhadap analisis ini

1. Ayat al qur’an (Q.S Al Ahzab : 53)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتَ النَّبِيِّ اِلَّآ اَنْ يُّؤْذَنَ لَكُمْ اِلٰى طَعَامٍ غَيْرَ نٰظِرِيْنَ اِنٰىهُ وَلٰكِنْ اِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَاِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوْا وَلَا مُسْتَأْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍۗ اِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيٖ مِنْكُمْ ۖوَاللّٰهُ لَا يَسْتَحْيٖ مِنَ الْحَقِّۗ وَاِذَا سَاَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَاسْـَٔلُوْهُنَّ مِنْ وَّرَاۤءِ حِجَابٍۗ ذٰلِكُمْ اَطْهَرُ لِقُلُوْبِكُمْ وَقُلُوْبِهِنَّۗ وَمَا كَانَ لَكُمْ اَنْ تُؤْذُوْا رَسُوْلَ اللّٰهِ وَلَآ اَنْ تَنْكِحُوْٓا اَزْوَاجَهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖٓ اَبَدًاۗ اِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمًا

Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggununggu waktu masak (makanannya). Tetapi, jika kamu diundang, maka masuklah; dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya, yang demikian itu akan mengganggu Nabi, lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.” (QS al-Ahzab ayat 53)

Pembahasan adab bertamu

Sebenarnya ayat tersebut menunjukkan tentang makna adab bertamu sekaligus pentingnya hijab, Bila kita perhatikan ayatnya penerjemahan terhadap alqur’an ini menggunakan metode harfiah atau perkata, yakni
setiah huruf maupun kata diartikan secara persatu satu coba kita pahami dari awalan ayatnya, dalam hal ini allah swt menunjukkan seruan dengan tanda huruf يٰٓاَ yakni memanggil atau menyeru hal tersebut juga terdapat dalam suatu
studi balaghah. Kemudian yang dimaksud seruan itu hanya diperuntukkan bagi orang yang beriman sesuai kalimat dalam ayat yang telah dipaparkanَ yakni اٰمَنُوْ. Lalu allah memberi peringatan dengan menunjukkan lafazh lam nahi, dimana melarang orang yang beriman untuk memasuki atau bertamu ke rumah seseorang dengan syarat yang terdapat huruf اِلَّآ yakni apabila diizinkan masuk dan dengan tanpa menunggu masakan tersebut selesai, ayat tersebut muncul dan dijelaskan hanya kepada rumah nabi ketika dimaknai dalam sepenggal ayatnya لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتَ النَّبِيِّ namun dijelaskan secara syariat Islam dikalangan seluruh umat muslim bukan hanya rumah nabi saja.

Selanjutnya yang dimaksud dari diperbolehkannya masuk dalam penggalan ayat اِلَّآ اَنْ يُّؤْذَنَ لَكُمْ اِلٰى طَعَامٍ yakni jika memang makanan yang dihidangkan tidak perlu menunggu dimasak atau mempermudah penerima tamu dalam menjamu tamunya, karena ketika tuan rumah sedang masak hal tersebut oleh para tamu sering penasaran sehingga mengintip atau masuk sampai dapur melihat apa yang dimasak, dan hal tersebut tidak disukai oleh Allah SWT.

(Kitab oleh Al khatib Al Baghdadi) oleh karena itu sebaiknya jika bertamu memberitahukan waktu yang tepat ketika ingin bertamu.

Namun ketika diundang pun maka sebagai seorang tamu kita telah otomatis diperbolehkan memasuki rumahnya seperti yang dijelaskan pada penggalan ayat اِلَّآ اَنْ يُّؤْذَنَ لَكُمْ اِلٰى طَعَامٍ غَيْرَ نٰظِرِيْنَ اِنٰىهُ tetapi dengan syarat ketika sudah selesai makan maka langsung keluar tanpa memperpanjang percakapan. Seperti makna pada penggalan ayatnya yakni وَلَا مُسْتَأْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ Ayat ini turun ketika saat itu nabi Muhammad saw sedang dalam acara pernikahan yang dimana ada 3 orang tersisa masih sibuk berbincangbincang sedangkan acara sudah selesai,hal itu mengganggu tuan rumah, terutama bagi tuan rumah yang tidak enakan. ketika kejadian hal tersebut Allah pun menurunkan ayat ini. dalam hal ini artikel republika sudah
memberikan penjelasan makna dengan dalil yang sesuai, akan tetapi ayat yang diberikan terjemahannya kurang lengkap, sehingga dapat salah penafsiran ataupun masih ada makna yang belum tersampaikan, yakni terjemahan nya seperti berikut :
ۚ وَاِذَا سَاَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَاسْـَٔلُوْهُنَّ مِنْ وَّرَاۤءِ حِجَابٍ
Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.

ۚ ذٰلِكُمْ اَطْهَرُ لِقُلُوْبِكُمْ وَقُلُوْبِهِنَّ ۚۚ
(Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.

ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ اَنْ تُؤْذُوْا رَسُوْلَ اللّٰهِ وَلَآ اَنْ تَنْكِحُوْٓا اَزْوَاجَهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖٓ اَبَدًا

Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula)nmenikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat).

اِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمًا
Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.

Menurut saya, penggalan terjemahan yang tidak tersedia dalam artikel republika mengenai referensi yang saya pakai amatlah penting, dimana kelanjutan dari adab bertamu tersebut juga memiliki makna dalam menjaga wanita yakni dalam hal menurunkan tabir ketika ada tamu yang datang kemudian istri rasulullah yang menjamunya, karena tidak tahu
apakah tamu tersebut baik atau jahat; Artikel risalah muslim.

Dengan begitu allah swt memberikan pengajaran mengenai kesopanan dalam rumah tangga yang harus diperhatikan oleh tamu-tamu ketika berkunjung ke rumah seseorang, dan menurut pandangan Muhammad Syahrur ayat ini mengenai hijab secara terbatas yang berkaitan dengan istri nabi dan tidak ada makna tertentu baik secara langsung maupun tidak yang menghubungkan ayat ini dengan istri orang beriman ; Aurat perempuan dalam perspektif Muhammad Syahrur, hal 68

Untuk itu ketika kita telah memahami makna adab bertamu tersebut perlulah kita sebagai orang yang ditamukan untuk menjamu dengan baik, sebagaimana salah satunya memberikan makanan serta minum selayaknya menghormati tamu, dengan pengecualian seperti memberi minuman dengan gelas yang baik tanpa retak, karena hal tersebut termaktub di jelasakan di dalam hadits Rasulullah SAW.

2. Hadits tentang larangan meminum di gelas yang retak :

Dalam Sunan Abu Dawud diriwayatkan hadits dari Abu SaidnAl Khudri bahwa ia menceritakan:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشُّرْبِ مِنْ ثُلْمَةِ الْقَدَحِ وَأَنْ يُنْفَخَ فِي الشَّرَابِ

Artinya :
“Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang perbuatan minum dari bagian gelas yang retak atau ثُلْمَةِ الْقَدَحِ , dan beliau juga melarang bernafas dalam air minum.”

[HR Abu Dawud: 3722. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].; Shahih Sunan Abu Dawud: 3165, Silsilah al-Ahadits
ash-Shahihah: 387 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 6849.

Pembahasan meminum di gelas yang retak

Penerjamahan seperti ini menggunakan metode taqdim dan ta’khir yang apabila diterjemahkan maka pertukaran posisi pada fiil dan fail nya yang awalnya larangan rasulullah menjadi rasulullah melarang. Kemudian dalam kalimat di awal telah menunjukkan larangan dalam bentuk نَهَى , dimana rasulullah yang melarang perbuatan minum dari bagian gelas yang retak ( ثُلْمَةِ الْقَدَحِ ) dimana hal tersebut dimaksudkan agar kepastian kebersihan dari gelas tersebut jelas, karena ada
beberapa hal yang menjadi efek dari gelas pecah diantaranya :
1. ketika gelas retak akan mengkhawatirkan sangkutnya kotoran ketika gelas di cuci.
2. ketika minum dari gelas juga tidak akan optimal atau berjalan dengan baik
3. dapat membahayakan apabila retakan yang tajam dan melukai mulut
4. bagian yang pecah adalah bagian yang jelek, sedangkan kita harus memulai semua dengan kebaikan
5. sisi gelas retak biasanya kotor dan menyebabkan bau tidak enak.; Berakhlak dan beradab mulia, hal 179

Selanjutnya pada penggalan kalimat وَأَنْ يُنْفَخَ فِي الشَّرَابِ yang menunjukkan makna larangan bernafas dalam minum, makna secara al quran يُنْفَخ dimaknai dengan ditiup,sedangkan secara umum meniup, memompa, menggelembungkan. Maka pemakaian arti menjadi bernafas adalah kata yang tepat sehingga memudahkan dalam memahami maknanya. maka disini akan ada perbandingan dari hadits lain sebagai berikut :

إذا شربَ أحدُكم، فلا يتنف�”َس�” في الإناءِ، فإذا أرادَ أن يعودَ، فلينح�”ِ الإناءَ، ثم�”َ ليَعُد إن كانَ يريدُ
Artinya :
“jika salah seorang di antara kalian minum, janganlah bernafas di dalam bejana (tempat minum). Jika ia ingin mengulang (tegukan) maka singkirkan dahulu bejana (dari mulut untuk bernafas), kemudian teguk lagi jika ingin” (HR. Ibnu Majah 2784, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah) ; dakta.com

Hadits mengenai dilarang nya bernafas dalam minum air ini banyak ulama yang setuju atau hadits ini termasuk ke dalam hadits shahih, pada perbandingannya di dalam penggalannya yakni إذا شربَ أحدُكم، فلا يتنف yang masih bermakna awal kata إذا menjadi makna jika, lain hal dengan referensi pada artikel republika penggalan di mulai dengan kata أن yang berarti melanjutkan dari kalimat sebelumnya dan menekankan larangan selanjutnya yakni tidak hanya gelas retak tetapi juga bernafas didalam bejana ketika minum itu dilarang. Kemudian pada perbandingan hadits referensi dengan artikel yang didapat penggunaan gelas disini menjadi kata الإناء akan tetapi di referensi tidak dituliskan secara langsung الإناءَ (gelas) yakni hanya dengan kata اشرابَ ketika minumnya. Kemudian pada penggalan kalimat berikutnya
di perbandingan yang pertama menjelaskan secara lebih setail yakni jika ingin mengulang tegukan selanjutnya maka singkirkan dahulu atau bernafas diluar bejana lalu lanjutkan dengan meminumnya kembali.

Kita dapat meneladani dari cara rasulullah ketika gelas pecah maka rasulullah dengan kesederhanaannya menambal gelas pecah tersebut. Oleh karena itu apabila ingin bernafas ketika minum maka bernafaslah di luar bejana atau gelas, karena demi kesehatan dan meneladani sikap rasulullah; Lihat al fath (10-115/116) Fatawa Ibni Taimiyah (32/208-209); dan An Nail (9/80).

Kemudian setelah kita mengetahui makna dan bagaimana kita sebagai umat Islam menyikapinya, perlulah adanya suatu penelitian atau analisis pada diri masing-masing mengenai apakah benar landasan yang dijelaskan oleh banyak
sekali ulama itu memiliki sumber yang tepat. Dengan begitu kita dapat menyikapinya didalam perkataan ulama berikut mengenai Hadits dhaif.

3. Pendapat ulama mengenai Hadits Dhaif :

Mazhab Hanbali

( فَلَا بَأْسَ ، لِجَوَازِ الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ ) . قَالَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ : الْعَمَلُ بِالْخَبَرِ الضَّعِيفِ ، بِمَعْنَى : أَنَّ النَّفْسَ تَرْجُو ذَلِكَ الثَّوَابَ ، أَوْ تَخَافُ ذَلِكَ الْعِقَابَ . وَمِثْلُهُ : التَّرْغِيبُ وَالتَّرْهِيبُ وَالْمَنَامَاتِ

Boleh mengamalkan hadits dhaif dalam keutamaan amal. Syekh Taqiyuddin berkata: “Artinya bahwa seseorang menginginkan pahala dan takut dengan dosa. Demikian pula hal motivasi ibadah dan dorongan menjauhi dosa.” (Mathalib Uli An-Nuha, 3/234)

Pembahasan Hadits Dhaif

Kata قَالَ di awal telah menunjukkan bahwa kata tersebut adalah sebuah perkataan, dimana perkataan ini adalah pendapat dari seorang ulama yakni الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ namun dalam penerjemahan nya langsung di tulis “Boleh mengamalkan hadits dhaif dalam keutamaan amal.” Ditukar posisi menjadi lebih awal, yang seharusnya diletakkan setelah قَالَ, namun tidak merusak makna tersebut. syeikh tersebut menjelaskan tentang keutamaan mengamalkan hadits dhaif, walau sejatinya hadits dhaif adalah hadits yang rendah dalam kebenarannya.

Maka dalam mazhab hanbali tadi disebutkan فَلَا بَأْسَ yang berarti tidak masalah atau diperbolehkan, maka menjadi perubahan makna secara bahasa sudah tepat yang jika diartikan harfiah atau perkata adalah “tidak apa-apa”, dengan kata “boleh” dengan begitu perkataan tersebut menjadi lebih mudah dipahami dalam artiannya. Dapat kita lihat bahwa startegi yang dipakai dalam penerjemahan ini menggunakan taqdim dan ta’khir juga metode harfiah yakni penerjemahan secara perkata dan juga adanya penukaran posisi pada penerjemahan nya. Untuk makanya selanjutnya sendiri di dalam mazhab tersebut juga memiliki artian apabila hadits tersebut menajdi sebuah motivasi untuk lebih giat dalam beribadah dengan demikian menjadi takut akan dosa dan bersemangat berbuat kebajikan. Dan dapat disimpulkan bahwa jika pun ingin melakukan mengikuti hadits dhaif tidaklah diperbolehkan apabila bersangkut paut dengan halal dan haram, dan menurut saya juga didalam mazhab ini sudah cukup untuk penerjemahan arab ke Indonesia.

Sebenarnya judul referensi nya yakni mengenai doa makan yang dianggap dhaif, maka hal tersebut tentunya berhubungan bagaimana kita menyikapi hadits dhaif, dan seperti yang dijelaskan sebelumnya yakni dengan skesimpulan dari berbagai ulama ;
• Imam Nawawi dalam Fatawa-nya menyebutkan adanya konsensus (ijmak) di kalangan ulama terkait kebolehan mengamalkan hadits dhaif untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan akidah dan hukum halal dan haram.
• boleh mengamalkannya secara mutlak dalam persoalan hukum ketika tidak ditemukan lagi hadits sahih yang bisa dijadikan sebagai sandaran. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad dan Abu Daud. Selain itu Imam Abu Hanifah dan Ibnul Qayyimil Jauziyyah juga mengutip pendapat tersebut.
• hadits dhaif boleh diamalkan jika ia tersebar secara luas dan masyarakat menerimanya secara umum tanpa adanya tolakan yang berarti (talaqqathul ummah bil qabul).
• boleh mengamalkannya ketika hadits dhaif tersebut didukung oleh jalur periwayatan lain yang sama atau lebih kuat secara kualitas darinya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam At-Tirmidzi dalam karyanya. Wallahu a‘lam. (Yunal Isra) ; NUonline, Sikap muslim terhadap hadits dhaif dan palsu

Simpulan

Dalam analisis terjemahan ini, penggunaan strategi maupun metode dalam penerjemahan rata rata mengikuti gramatikal scara harfiah dan menggunakan metode taqdim takhir. Maka ketika analisis tersebut membahasa mengenai adab bertamu kita sebagai seorang umat muslim sudah semestinya bersikap baik ketika menjamu tamu. Dengan begitu Allah akan membalas kebaikan serupa maupun berlipat ganda, karena silaturahmi adalah amalan yang mulia.

Kemudian berilah pelayanan yang baik yakni ketika memberi minum jangan berikan gelas yang retak karena hal tersebut dilarang dengan alasan seperti kotoran menyangkut di retakan gelas.

Lalu dalam hal tersebut kita harus berhati-hati dalam pemaknaan semua lmu yang kita ketahui yang diharuskan memakai landasan ataupun sumber yang shahih karena itu menjadi salah satu rujukan maupun pedoman umat muslim dalam menjalankan ibadah maupun kegiatan sosial dll yang dilakukan selama di dunia.
Maka keberhati-hatian dalam mencari sumber ilmu sangatlah penting

 

DAFTAR PUSTAKA

Kitab oleh Al Khatib Al Baghdadi
Kitab Tafsir Ibnu Katsir
https: //risalahmuslim.id/quran/al-ahzab/33-53/
https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/10773/1/SOBRUNFUF.pdf
https://cintakajiansunnah.wordpress.com/tag/larangan-minum-dari-bahagianbejana-yang-retak/
http://www.dakta.com/news/26175/rasulullah-larang-minum-dengan-sekali-nafas
Buku Berakhlak dan Beradab Mulia, Ahmad Asy-Syaami
Buku Fikih Kuliner
https://muslim.or.id/43655-potret-kesederhanaan-rasulullah-shallallahualaihiwasallam.html
https://kesan.id/feed/tanya-kiai-mengamalkan-hadis-dhaif-5233
https://www.nu.or.id/post/read/77980/sikap-muslim-terhadap-hadits-dhaif-danhadits-palsu

 

Editor : Bowo Sunarso

Tidak Ada Komentar

Tinggalkan Balasan.

*

*