oleh

Mang Nopran Kami Memilih Anda Tersebab

Oleh : Hefra Lahaldi (penulis Lahat) 

Sebab anda konsisten untuk mengabdi. Sederhana cara kami sebagai rakyat menilai. Dengan program bagi-bagi tenda dan kursi. Ya kursi yang dulu ikut anda perebutkan kini mulai terasa bagi kami setelah dibagi-bagi. Ini bukan soal puja-puji karena dasarnya adlah serapan aspirasi maka pantas bagi anda dab kolega untuk meneladani. Soal keikhlasan itu rahasia hati dan urusan anda dihadapan Illahi. Secara zahir kami telah mengadili.

Sebab baliho anda yang unik berpoto selfie dengan mang Herli. Kekinian mungkin strategi pasar untuk mendulang suara pemilih pemula. Tapi bagi kami yang senantiasa ingin mengambil hikmah. Bahwa yang diperlukan untuk memeriksa dan memantas diri memang adalah secermin muka bukannya seteropong mata. Kami berbaik sangka saja bahwa gaya anda berselfie adalah bagian dari proses mangaca dan megoreksi diri. Tersebab, tak sekedar amanah dan berkemampuan saja syarat utama untk menjadi pemimpin. Ada yang mesti jauh ditelisik yaitu tentang proses tawadhunya hati selama perencanaaan menuju kuasa dan terengkuhnya kuasa adalah bekal yang sama mesti dipunya. Karena tak banyak pemimpin yang mampu bertahan pada goda kuasa. Doa segenap kami anda bisa..

Sebab kami meyakini bahwa memantaskan untuk memilih anda adalah ijtihad politik qiyadah dan guru-guru kami. Dalam hal ijtihad jika ia benar maka mendapat dua pahala. Tersalah pun ia tetap berpahala. Tentu saja tugas kami menajam mata hati. Sedari awal bahwa proses pilihan ini hanya sebatas pandangan zahir saja yang tentu terkadang banyak menipu.

Tersebab kita semuanya tidak lah sesuci bunda ‘Aisyah yang wajahnya dihadirkan Allah dalam mimpi sebagai calon istri untuk menemani dakwah nabi. Pastilah istikharah kami tidaklah bagus bobot mutunya dan doa kami tidaklah berat kualitasnya. Tertampilnya wajah anda pada mimpi-mimpi kami agaknya memamng susah. Tapi kami diajarkan untuk menyeksama setiap dada adakah rasa sakinah terselip disana. Oleh itu, mari hadirkan rasa tentram itu disetiap dada kita untuk memulai perjuangan menjemput kemenangan..

Tersebab doa kami taklah seagung Rasulullah yang dalam pengokohan dakwah menghajatkan satu diantara dua amr. Amr bin hisyam atau uamr bin khattab. Kami hanya meminta kepada Allah untuk senantiasa dikuatkan dakwah ini oleh para penyeru-penyerunya. Dan bisa jadi anda adalah ijabah dari setiap doa-doa.

Mang Nopran renananya kamj memilih anda di pilkada nanti. Tetapi..

Satu hal. Jangan ikut menjadi konyol menggunakan sebuah campaign kotor dengan menghambur sembako secara ugal-ugalan dan pesta rupiah bermilyaran. Pilkada ibukota telah merasakannya. Ketika petahana merasa pongah untuk memenangkan sejagad ibukota tapi takdir Allah lebih memilih memenangkan koalisi kecil kita dengan sokongan dan doa ulama dan jelata. Karena sesuatu yang kotor tidak bagus hasil akhirnya. Bisa saja petahana belajar dari moyang pongahnya Abu jahal. Yang ketika Badr disarankan al-Akhnas pulang kekandang justru memilih pesta secara ugal-ugalan menyambut pertempuran. Hasil akhir bisa ditebak. Koalisi muhajir dan anshor mengirim mereka kesumur badr. Kaum jelata madinah semisal Abdullah bin mas’ud dan Bilal bin Rabah menjadi penuntas akhir hidup pemimpin quraisy Abu jahal dan Ummayah.. Mang. Jika harus ugal-ugalan maka yang mesti dipilih adalah doa dari para ulama dan jelata. Agar tak kualat seperti di ibukota..

Surat ini sudah pernah disampaikan oleh ustad kami Salim kepada pak Prabowo diperhelatan Pilpres dulu kala. Nyatanya Prabowo kalah. Bukan salah suratnya atau Prabowonya ataupun bukan soal menang kalahnya. Karena sesungguhnya berbuat untuk bangsa tak mesti harus menduduki kursi tertinggi dinegeri. Pengabdian yang tulus kepada rakyat tak mesti menunggu kita menjabat. Dan Prabowo melakukan itu. Anda saja anda mengalami takdir yang sama, maka orang yang paling pantas meneladinya adalah anda.

Sesungguhpun persoalan terpilih atau tidak terpilihnya anda dalam pilkada nanti membuat kami sama merasa ngeri-ngeri sedap. Yang kami khawatirkan adalah ketika anda terpilih tidaklah mampu anda meneladani sang Khalifah Umar bin Khattab dalam tangis khutbahnya. ” yang ku khawatirkan adalah tidak ada lagi diantara kaum muslimin yang menasihati diakala aku tersesat.”
Justru ketika anda terpilih semakin berat dan sibuk beban dakwah kami. Karena selain doa, hajat yang paling dibutuhkan oleh seorang pemimpin adalah nasihat. Dan yang paling kami takutkan adalah ketika tidak diperbolehkan atau kami merasa takut sendiri sebagaimana yang pernah dilontarkan oleh seorang mukmin pada saaat khutbah tadi. ” jika engkau bengkok ya Umar, maka kami akan meluruskannya dengan pedang ini”

Jika program TENAR takdirnya tak hendak mampir diakhir pilkada nanti. Kita semua telah berusaha dengan sebaik-baiknya. ” Tidak adalagi human error disini” ujar ustadz Anis Matta. Kita mesti mematuhi rambu-rambu yang berlaku. Tentang niat dan kerja kita. Bukankah prestasi tertinggi dan keTENARAN kita bukan didunia ini tapi nanti diakhirat sana. ” itulah negeri akhirat. Kami berikan untuk mereka yang tidak menghendaki ketinggian dunia dan juga tidak berbuat kerusakan.” ayat ini sempat dibaca Umar bin Abdul Aziz menjelang wafatnya. Itulah bedanya model manusia muslim dengan mereka diluar sana.

Inilah kami calon pemilih anda dipilkada nanti..

banner 728x700

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *