oleh

Rekonstruksi Optimisme Pilkada Lahat 2018. Analisis Warung Kopi

Tulisan ini hanya berkualitas analisis warung kopi yang miskin referensi. Hanya menggunakan referensi yang pernah ada di otak, kemudian kita rapikan lagi. Apalagi ini terkait hajat besar kita masyarakat Kabupaten Lahat untuk Pilkada 2018, yaitu mencari sosok pemimpin Kabupaten Lahat.

Ini adalah pilkada yang ketiga kalinya dalam Pilkada langsung. Dulu, saya pernah sedikit ingat ketika bupati kita bernama Harunata. Tapi tidak lama, ada pilkada saya lupa tahunnya. Terpilihlah Saifudin Aswari Rivai. Saya ingat, waktu itu saya masih SD di salah satu sekolah bilangan prumnas dua Bandar Jaya Lahat.

Tentu saja, dari sini kita tau betapa saya masih anak-anak untuk melakukan sebuah analisis kritis yang kompleksitas dengan berbagai sudut pandang. Saya masih SD, sedangkan Pak Aswari sudah nyalon Bupati.

Ada yang menarik di Pilkada 2018 ini. Yang ketika kuliah, saya selalu yakin akan hal ini. Khususnya pilgub. Dulu di Palembang, masa masih mahasiswa. Saya sering berkata pada kawan-kawan sesama aktivis terutama di forum organisasi kedaerahan Lahat khususnya. Bahwa Lahat memiliki bakat Sumber Daya Manusia yang baik. Landasan saya mengatakan itu adalah pengamatan lapangan. Teman – teman saya asal Lahat yang kuliah saat itu, memiliki posisi penting dilingkungan masing-masing. Ada yang ketua kelas, ada yang jadi pemilik IPK tertinggi, ada yang jadi pejabat kampus, ada yang vokal di kelasnya, dan lain sebagainya. Dan saya dulu bangga sekali mengatakan itu. Sekali lagi, ini hanya analisis warung kopi.

Sekarang, fenomena pilgub kembali mengingatkanku akan kenangan masa itu. Dari empat pasangan, semuanya berbau Lahat. Herman Deru istrinya orang Lahat. Dodi Reza punya darah Lintang pecahan Lahat, Yudha Pratomo anaknya Mahyudin mantan wagub, Aswari Rivai Bupati Lahat dan Irwansyah yang kubur puyangnya ada di Pagaralam. Artinya, ini modal awal kita bernama Sumber Daya Manusia.

Ini belum termasuk banyak lagi manusia – manusia besar asli Lahat di bidang lain. Tentu saja kalo dijelaskan bisa menjadi sebuah buku yang selalu saya rencanakan berjudul “Manusia – Manusia Besar” Serial Lahat.

Sanak famili yang saya banggakan. Lahat ini adalah Kabupaten tertua di Sumatera Selatan. Ingat, Kabupaten tertua bukan Kota tertua. Sejak 1830 di Lahat terdapat marga-marga diantaranya Besemah, Lintang, Gumai, Lematang, Kikim dan Tebing Tinggi. Marga, ketika itu adalah pemerintahan per suku.

Kemudian pada zaman Belanda, Sumsel terdiri dari 7 Afdeling. Sistem pemerintahan kala itu. Dua diantara tujuh Afdeling itu ada di Lahat. Yaitu Afdeling Tebing Tinggi dan Afdeling Lematang Ulu (termasuk Lematang Ilir, Kikim dan Besemah). Pada 20 Mei 1869 Afdeling Lematang Ulu ditetapkan berpusat di Lahat hingga jadilah 20 Mei hari jadi Lahat.

Memang, yang paling pas untuk membahas ini adalah sejarahwan Lahat. Namun kita kesulitan menemukan referensi yang pas terkait sejarah ini. Mungkin ada yang pernah bahas dalam forum ilmiah, namun kurang sosialisasinya. Misalnya dalam sejarah tanah Besemah. Tentang ajaran Islam pertama kali datang ke Lahat. Ini dibahas oleh sekelompok sejarahwan mengumpulkan data kemudian disosialisasikan melalui media sosial dan diskusi diskusi sejarah. Kita tahu bagaimana sejarah Islam di Besemah bermula ketika ada Perkumpulan ulama yang membahas bagaimana menyebarkan Islam di Sumatera. Maka dipilihlah Syekh Baharudin untuk wilayah Sumatera dari forum itu. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Islam di Sumatera bermula di Besemah. Kemudian kita ketahui, asal muasal patian puyang jagat Besemah itu adalah teknik dakwah Syekh Baharudin kala itu yang kemudian dikenal dengan Puyang Awak.

Kembali ke Pilkada Lahat 2018. Sekali lagi, ini hanya analisis warung kopi. Saya menyadari minim sekali referensi dan data yang bisa melepas dahaga penasaran kita tentang sejarah Kabupaten Lahat yang kita cintai ini. Memang belajar sejarah ini menarik sekali, maka ini perlu kita dalami dan dirawat oleh dinas terkait. Karena ciri bangsa besar itu adalah yang memahami sejarahnya.

Awalnya, banyak sekali muncul kandidat di Pilkada Lahat 2018 ini. Mereka berasal dari berbagai latar belakang profesi. Ada mantan DPR RI, polisi, akademisi, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten, Birokrat, Pengusaha, dan lainnya. Hal ini berkaitan dengan empat pasangan gubernur Sumsel embau Lahat gale. Yang sebenarnya menuntut warga Lahat untuk bijaksana menjadi pemilih cerdas.

Lahat dulu dikenal dengan Kota pelajar. Karena banyak anak anak dari jauh datang ke Lahat untuk sekolah. Ada dari Pagaralam dan Tebing Tinggi yang dulu memang masih bagian Lahat. Hal ini wajar jika kita ingat bahwa Lahat adalah Kabupaten tertua di Sumatera Selatan. Maka otomatis banyak yang datang ke Lahat untuk sekolah. Bahkan ada beberapa urusan ketika itu yang tempat ngurusnya di Lahat. Lahat kala itu, menjadi kota trend setter.

Sudah tentu, Lahat sudah tua. Menjadi yang paling mapan diantara yang lain. Mapan dalam pembangunan dan ekonomi. Walau yang tua tidak selalu lebih mapan dari yang muda. Setidaknya ada kekuatan trend setter yang mengakui Lahat pernah seperti itu. Tidak menjadi sebuah cerita layaknya Andalusia. Yang bapaknya hanya bisa mengatakan bahwa “dulu”.

Tentu saja, pemimpin Lahat kedepan harus punya misi ini. Memperbaiki sejarah kita. Memahami sejarah. Kemudian menanamkan lagi nilai itu. Perhatikan, bangsa besar itu tetap bertahan karena selain teknologi dan sains, mereka berusaha mempertahankan jati dirinya. Jepang, sangat menghormati sejarah dan budaya. Begitu juga dengan India, mereka punya sejarah sendiri dan membuatnya menjadi daerah unik. Kemudian di Indonesia, ada Bali. Mereka punya jati diri. Berbeda dari yang lain. Sedangkan Lahat, kita punya juga, namun justru kita memilih gandrung akan jati diri orang lain. Meniru orang. Bukan menjadi diri sendiri.

Kita butuh pemimpin yang memiliki dan faham nilai luhur Puyang Awak (Syekh Baharudin). Disana jelas, mengajak kita warga Lahat. Misalnya, Berangke kalah pedang singilah jalan kayek. Maknanya dalam. Dan sangat indah. Persaudaraan. Belum patian yang lain. Sangat kaya, inilah jati diri Kabupaten Lahat.

Unik lagi. Lahat punya daerah komplit. Ada dingin dan ada panas. Sektor pertanian dan perkebunan sehingga banyak jenis tanaman yang bisa kita tanam. Baik tanaman daerah dingin maupun daerah panas. Ditambah potensi airterjun yang sekarang sudah sampai 137 airterjun, belum goa, perbukitan, sungai dan ekowisata.

Semua harus dilakukan oleh ahlinya. Ini bukan sekedar merebut kursi panas untuk jadi raje. Tapi bagaimana mengelola potensi dengan bijaksana. Bukan dengan nafsu. Ingatlah bahwa setiap kita pemimpin, dan bertanggung jawab atas apa yang kita pimpin. Maka, Bupati memiliki tanggung jawab atas yang ia pimpin. Yaitu seluruh masyarakatnya, dan tanah airnya. Oleh karena itulah, luruskan niat. Pemimpin itu dua, jika ia berhasil syurga. Jika gagal maka neraka.

Penulis : M.YANUAR ANOSEPUTRA SPdI Alumni UIN Raden Fatah Palembang tahun 2016, mantan aktivis BEM di Kota Palembang, Berdarah Kikim-Semendo

 

(timredaksi)

banner 728x700

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *