Oleh : Lili Suherma Yati, S.S., M.A
(Penulis adalah Ketua Departemen Jaringan dan Kelembagaan PD Salimah OKU dan Pegiat Literasi)
Akhir-akhir ini, bunda kami semakin berbeda dari sebelumnya. Saat pagi tak ada waktu lagi menemani kami sarapan pagi. Pulang kerja sudah lebih dari jam 16.00. Bahkan terkadang sampai petang menjelang. Ayah juga sama. Orang-orang bilang mereka pejabat dan orang terhormat di masyarakat. Tapi sayang… entah mengapa kami merasa tak semakin dekat. Ayahku bisa tersenyum dan begitu tunduk pada atasannya. Demikian juga bunda. Ayah bisa bertutur santun dan bijak pada orang lain. Demikian juga bunda. Ayah bisa menatap teduh. Demikian juga bunda. Tapi sayang… semua itu bukan untukku dan untuk kakak adikku. Bahkan ketika sudah di rumah, tak jarang terdengar gertakan Ayah kepada Bunda. Atau sebaliknya. Ini yang membuat kami hampa dan mencari-cari dimana kasih dan cinta ayah bunda…
***.
Ilustrasi di atas mungkin saja terjadi di sekitar kita. Sadar atau tidak, adakalanya pernah kita dengar atau bahkan pernah kita alami. Jika iya, maka tak ada kata terlambat untuk kita perbaiki sebab jika hal seperti ini berkelanjutan akan berdampak negatif pada perkembangan kepribadian anak.
Sebagaimana telah dipahami bersama bahwa keluarga merupakan benih akal penyusunan kematangan individu dan struktur kepribadian. Anak-anak mengikuti pola dan perilaku orang tua dan lingkungan keluarganya. Sehingga atas dasar itu, keluarga memiliki tugas dan tanggung jawab menyelamatkan mendidik anak dengan benar dan jauh dari penyimpangan.
Menurut Fuad Ihsan, fungsi lembaga pendidikan keluarga merupakan lembaga pengalaman pertama bagi anak-anak. Pendidikan dalam keluarga dapat menjamin kehidupan emosional anak untuk tumbuh dan berkembang. Oleh sebab itu, orang tua harus dapat menciptakan suasana keluarga yang damai dan tentram dan mencurahkan kasih sayang yang penuh terhadap anak-anak, meluangkan waktu untuk sering berkumpul dengan keluarga, mengawasi proses-proses pendidikan anak, dan orang tua menjalankan tugas secara bertanggung jawab.
Setidaknya terdapat lima kriteria keluarga sehat dan bahagia dalam rangka menumbuhkan kepribadian anak antara lain adalah: pertama, kehidupan beragama dalam keluarga; dalam hal ini, diharapkan orang tua memiliki ilmu agama sekaligus pemahaman yang memadai sehingga dapat menanamkan nilai-nilai agama dari hal-hal terkecil sampai hal yang besar. Dengan penanaman nilai agama sejak dini, diharapkan anak-anak dapat terbentengi dari ancaman-ancaman nilai-nilai yang membahayakan. Di sini pula dibutuhkan keteladanan dalam keluarga.
Kedua, mempunyai waktu yang berkualitas untuk bersama (quality time). Dalam penerapannya, quality time dapat diterapkan dengan menciptakan suasana yang kondusif agar dapat lebih terbuka dan komunikatif. Cara melakukan quality time pada dasarnya tidak harus dalam waktu yang lama seperti liburan, melainkan dapat juga dilakukan dengan sederhana. Dapat dilakukan saat setelah selesai beribadah, sesaat setelah makan malam, sebelum tidur, ketika menonton televisi, atau bahkan ketika mengerjakan tugas rumah tangga bersama. Dalam kondisi demikian bias diawali dengan menanyakan perasaan dan aktivitas hari ini, memberikan pujian, dan bercengkrama.
Ketiga, harus mempunyai pola konsumsi yang baik. Dalam hal ini, orang tua harus selektif dalam memilih makanan yang akan di konsumsi. Perintah agama yang menekankan bahwa makanan yang dikonsumsi adalah makanan yang halal dan thayib, bukan tanpa dasar. Apabila kandungan gizi pada makanan itu berkualitas dan prosesnya dikerjakan dengan baik dan halal, maka dapat menciptakan energi positif dan penting dalam perannya membangun bangsa.
Keempat, mempunyai sikap saling menghargai. Di dalam sebuah keluarga, sebuah rasa saling menghargai merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan, sebab ia akan menjadikan terciptanya suasana yang harmonis dan nyaman. Masing-masing anggota keluarga dapat menempatkan diri pada posisinya dan porsinya masing-masing tanpa harus terhalang oleh kekuatan maupun kekuasaan. Seorang anakpun dengan kesadarannya menempatkan posisi orang tua sebagai posisi yang lebih tinggi dan terhormat.
Kelima, adalah mempunyai ikatan batin yang kuat antaranggota keluarga. Dalam hal ini masing-masing anggota keluarga merasa terikat dalam ikatan keluarga sebagai sebuah kelompok sehingga apabila terjadi permasalahan dalam keluarga dapat diselesaikan dengan cara-cara yang positif, terkoordinatif, dan konstruktif. Dengan demikian suasana kebersamaan akan terjalin dan menjadikan taman cinta dan kasih terus berkembang.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan awal bagi anak, karena sejak mereka dilahirkan yang pertama kali mereka hadapi adalah lingkungan keluarga. Sementara pengalaman masa kanak-kanak merupakan faktor penting bagi perkembangan selanjutnya.
Keteladanan orang tua dalam aktivitas sehari-hari akan menjadi wahana pendidikan moral bagi anak, dan akan membentuk pola kepribadian anak sebagai makhluk sosial, religius, untuk menciptakan kondisi yang dapat menumbuhkembangkan inisiatif dan kreatifitas anak. Maka, jangan enggan untuk terus belajar menjadi orang tua yang bijak, santun, dan berbudi untuk menyiapkan generasi-generasi unggul di masa yang akan datang.












Komentar