Ibu . . .
Hari-hari yang kulalui bersamamu . .
Canda tawamu, bersamaku . .
Kasih dan sayangmu, selalu ada.
Pelukan yang selalu menghangatkan.
Menyatukan sanubari kita.
Ibu . . .
Engkau pahlawanku,
Pahlawan yang selalu siaga untuk kami.
Engkaulah malaikatku,
Malaikat Tanpa Sayap bagiku.
Setiap pagi engkau bangun, untuk keluargamu.
Pekerjaan rumah tanpa pamrih engkau kerjakan.
Ibu . . .
Keikhlasan itu membuatku bangga punya ibu sepertimu
Tidak hanya aku yang sayang dirimu
Tapi yang ada di rumah ini pun juga.
Ibu . . .
Muka dan kulitnya mulai mengerut.
Kini tubuhmu pun mulai rentan.
Tak sekekar dahulu.
Di hari tua mu ini, ingin rasanya buatmu bangga.
Tapi apa daya, aku tak mampu.
Diriku kini hanyalah butiran debu yang berserakan.
Belum bisa menjadi kebanggaanmu.
Ibu . . .
Izinkan aku untuk selalu menjagamu.
Membuatmu tersenyum dan bahagia.
Setiap lima waktu yang kulakukan.
Lantunan doa, selalu ku sertakan namamu.
Ya Robbi . . . Lindungi dia yang kusayang.
Hanya dia wanita yang berharga di hidupku.
Terima kasih Ibu, telah hadir bersamaku.
Lia Martasari. Mahasiswi STIT-YPI Lahat`
Saat ini tengah aktif sebagai anggota Forum Lingkar Pena Cabang Lahat.












Komentar