oleh

KP KAMMI Komsat UNTAN Gelar KASAT 1

Beritakite.com, Pontianak – Kalbar 22/02/2017 bidang KP KAMMI Komsat UNTAN Gelar KASAT 1 di rumah gerakan KAMMI yang menghadirkan KP KAMMI wilayah Kalbar Rahmat Saiful dengan pembahas politik, mahasiswa dan kampus dari masa ke masa.

Merupakan sebuah keniscayaan bahwa setiap kebangkitan itu pemudalah menjadi pilar-pilarnya yang menjadi ciri khas gerakan pemuda/mahasiswa era 1908 adalah kelompok-kelompok studi yang kemudian melahirkan Budi Utomo (Hardiknas) 1908 tersebar hingga memiliki 40 cabang dan beranggota 10.000 orang. Pada kesempatan lain M.Hatta di belanda mendirikan perhimpunan Indonesia, dan pada tahun 1928 bertepatan dengan Kongres  ke-2 tercetuslah sumpah pemuda yang mampu menghimpun persatuan pemuda dari berbagai daerah sebut saja jong java,jong sumatera,jong borneo dll.

Yang perlu kita garis bawahi dari sejarah era Budi Utomo dan sumpah pemuda adalah :

  1. Peran penting perubahan di pelopori oleh pemuda
  2. Pemuda berhimpun melakukan analisis dan kajian mendalam berkaitan dengan permasalahan yang terjadi
  3. Keunikan gerakan di era ini,dengan keterbatasan teknologi tetapi pemuda saat itu mampu menghimpun jumlah masa yang besar
  4. Mahasiswa/pemuda bersatu karena ada musuh bersama

Gerakan pasca Belanda diusir kelompok studi ini bertransformasi menjadi gerakan politik => Parpol, lahirlah Partai Nasional Indonesia (PMI) 1942 dengan toko utama Ir. Soekarno (Pada saat itu berumur 21 Tahun) dan lahir juga Partai bangsa Indonesia (PBI). PMI menjadi gerakan yang di takuti kala itu.. Proklamasi Kemerdekaan pun (1945) tak luput dari peran penting pemuda yang memiliki keyakinan bahwa kemerdekaan harus disegerakan walaupun berseberangan penndapat dengan kaum tua yang terkesan menunggu-nunggu.

Gerakan 66 di era Ir. Soekarno memimpin terjadi kesenjangan karena ppemerintah yang muali berulah dengan demokrasi terpimpinnya membuat partai-partai tidak mendapat peran penting. Lahirlah perlawan mahasiswa yang melawan bangsa sendiri, kemudian lahirlah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia/KAMMI (1966) dan terjadilah demo yang diplopori Universitas Indonesia dan HMI lalu kemudian berhasil menumbangkan orde lama.

Masuk orde baru, diawali kepemimpinan Soeharto negara terlihat membaik, dan gerakan mahasiswa kembali studi oriented karena terlihat negara tidak bermasalah, namun kemudian setela h lama memimpin pemerintah mulai berulah kembali, korupsi mulai populer yang kemudian mengundang keresahan mahasiswa hingga terjadilah tragedi malaria (1975). Selang beberapa tahun kemudian rezim mulai membatasi gerak mahasiswa dengan penerapan (NKK,BKK) 1978 akibatnya gerakan tak bisa melawan dan gerakan mahasiswa kembali kekelompok studi yang pada akhirnya meledak di era 90an mencapai klimaks di tahun 1998 atau yang kita kenal dengan era reformasi.

Pasca reformasi lahir begitu banyak parpol dan di era ini mahasiswa bingung menentukan arah geraknya karena kita tidak memiliki isu yang sama yang sanggup menghimpun mahasiswa menjadi satu gerakan, bahkan sampai saat ini 18 Tahun pasca reformasi gerakan mahasiswa terpecah ada yang oposisi tetapi sebagian ada yang pro pemerintah. Mahhasiswa kampus dan politik menjadi satu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan dari masa ke masa. Bicara masalah UNTAN, maka gerakan kita hari ini belum menemukan musuh bersama, fase berada di komsat adalah fase penyiapan kader untuk menjadi anak panah yang siap dilepas kemana pun. Untuk mengawal isu gerakan level komsat belum diaggap mampu, karena komsat akan bingung isu apa yang harus dikawal, bicara masalah politik kampus, level komsat hanya mempersiapkan pemirama saja maka fase dikomsat ini lebih tepatnya merupakan fase doktrinisasi, kita membangun gerakan intelektual seperti era pra kemerdekaan atau era 70an. Maka yang paling penting dari gerakan komsat adalah membuat diskusi-diskusi agar saraf-saraf kepala mulai terbuka sehingga menjadi kader yang siap dilepaskan kemana pun.

Budaya ilmiah ini perlu digalakkan kembali, mulai dari struktur yang paling atas lalu kemudian menular ke struktur bawah. Dan diskusi ini tidak harus formal dalam bentuk format kajian tetapi bisa dimuali dimana pun, saat membaca koran atau menemukan gagasan dalam buku ini menjadi bahan yang bisa untuk didiskusi. Yang patut digaris bawahi “kesalahan yang kita sekarang adalah disaat jumlah kita sedikit kita menjadi lemah dan berhenti” jika kita akan mulai menunggu jumlah kita banyak maka yakinlah perubahan itu tidak akan terjadi. Maka penting bagi kita unntuk menghidupkan kembali budaya literasi kader “Membaca,Diskusi,Menulis” ungkap Rahmat syaiful diakhir diskusinya

#KAMMI_UNTAN

#KP_SIAP

 

Editor : Icha

Fotografer : Yanuar

banner 728x700

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *